Minggu, 28 Februari 2016

Secarik Kertas Untuk Rio



Hai guys, postingan kali ini saya akan memuat tentang salah satu karya tulis saya yaitu sebuah cerpen yang menceritakan kisah anak-anak SMA. Cerita ini terilhami dari kisah nyata yang terjadi saat saya masih di bangku SMA yang kemudian sedikit di "modifikasi" untuk kenyamanan bersama. Mohon maaf bila ada kesamaan nama/tempat/asal sekolah, karena pemilihan nama pada cerita ini hanyalah fiktif dan tidak benar-benar ada.
 
Secarik Kertas untuk RIO

 9.30 WITA
            “Kalau Anda mengamati, maka kalimat diatas semuanya menggunakan PREDICATE-1 atau predikat dalam bentuk 1, lihat saja to-be nya tidak lepas dari AM – IS – ARE. Contoh ini adalah The simple present tense dalam bentuk nominal, karena semua kalimatnya menggunakan tobe-1” jelas Miss Paula panjang lebar mencoba mentransfer ilmu present tense-nya pada murid-murid, dan yang lebih wow nya lagi beliau menjelaskan hanya dengan satu tarikan napas.
            Dug dug dug, suara meja yang dipukul membahana ke sudut-sudut kelas, sebagian murid yang sedang fokus di papan tulis menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan sebagian murid yang sibuk dengan kelopak matanya yang berusaha terpejam, “Miss jam pelajaran udah lewat dari sepuluh menit yang lalu nih”, sahut Erik di tengah pelajaran Bahasa Inggris yang sedang berlangsung. Miss Paula menurunkan kacamata bulatnya dan menyipitkan matanya dengan tajam pada Erik, “Hey you, you do not know I was speaking now?? (Hei kamu, kamu tidak tahu saya masih berbicara sekarang?)” balasnya dengan aksen Inggris yang kental.
            Erik memasang tampang blo’on, “Mm hehe, maaf ya Miss, bukannya saya becanda, tapi serius deh barusan tuh Miss ngomong apaan sih? Jujur aja Miss saya gak ngerti ucapan Miss tadi” jawab Erik sambil garuk-garuk kepala, seketika suara tawa satu kelas pun pecah memenuhi ruangan.
            Shut up!!! (diam!!!)” bentak Miss Paula, kelas hening dalam sekejap.
            How dare you screw up in my lesson! (Berani-beraninya kamu mengacau dalam pelajaran saya!)” tambah Miss Paula dengan suara tajam pada Erik, yang di bentak hanya diam membisu. Bukan karena takut, tapi karena gak ngerti apa yang dibicarakan. Walaah.
            “Miss marah karna lo mengacau dalam kelasnya...” bisik Fadlan teman sebangku Erik.      
            “Oooooh...” yang dimarahi ber “o” ria.
“Miss, gini ya Miss, bukannya saya mau mengacau, tapi Miss udah ngajar lewat jam, kita yang diajar aja udah gak konsentrasi. Kita...hungry Miss, Iya kan temen-temen? emang Miss gak laper?” tambah Erik.
            Out!!! You cannot take my lessons again! (Keluar!!! Kamu tidak boleh ikut pelajaran saya lagi!)”.
            Lagi-lagi yang dibentak hanya bengong kayak anjing lapar, “Rik, lo disuruh keluar, lo gak boleh ikut pelajaran Miss lagi” bisik Fadlan (lagi).
            “Apa??? Kok Miss gitu? Emang salah saya apa Miss? Kan alasan saya emang bener, jam pelajaran kan udah lewat sepuluh menit yang lalu, eh, enggak udah lima belas menit sekarang. Dan satu lagi Miss, bisa gak ngomongnya pakai bahasa Indonesia aja? Kasian temen saya jadi penerjemah mendadak nih Miss” katanya sambil melirik Fadlan yang kemudian melotot tajam pada Erik.
            “Tanpa kamu berkoar-koar pun saya sudah tahu! Tapi materi yang harus saya berikan ke kalian ini sangat penting, kalau belajarnya lewat sedikit kan gak apa-apa, kalian ini banyak sekali protesnya. Kamu tahu tidak Bahasa Inggris itu penting? Dimana-mana orang akan membutuhkan seseorang yang fasih berbahasa Inggris. Mau kemana kamu kalau kamu tidak fasih berbahasa Inggris? Palingan kerja dipinggir jalanan” Sindir Miss Paula.
            Wajah Erik yang tadinya blo’on kini berubah serius, pandangan bola matanya mengarah tepat pada satu titik. Bola mata Miss Paula. Ia berdiri dengan wajah sedingin es, dengan kedua tangan berada disaku celana, ia melangkahkan kaki dari singgasananya yang berada di sudut belakang menuju ke depan kelas. Tak ada yang berani bersuara. Hanya suara langkah kaki Erik yang terdengar. Kini keduanya saling berhadapan. Mereka saling bertatapan tajam.
            “Miss Paula yang saya hormati dan yang saya hargai...” Erik buka suara.
            “Perkenalkan, nama saya Erik Luthfi Hidayat, 18 tahun. Asal saya Solo-Jawa Tengah, mm orang Indonesia asli lebih tepatnya. Saya adalah siswa yang tidak fasih berbahasa Inggris, dan saya sadar akan kekurangan saya itu. Oleh karena itu saya mengikuti jam pelajaran Miss. Tapi sepenting-pentingnya pelajaran bahasa Inggris, saya lebih memilih tidak fasih berbahasa Inggris ketimbang tidak fasih berbahasa Indonesia, terlebih lagi tidak bisa bahasa Jawa yang notabene adalah bahasa ibu bagi orang bersuku Jawa seperti saya. Bagi saya, bahasa ibu sebagai bahasa yang pertama yang punya daya pengaruh lebih kuat terhadap perkembangan intelektual dan mental kalo dibandingkan dengan bahasa lainnya. Miss tau gak? Sekarang ini nasib bahasa ibu makin sekarat, trend dunia saat ini adalah Think globally, act locally. Artinya bahasa ibu atau bahasa daerah sangat penting diperhatikan dan dijaga keberlangsungannya demi menjaga keunggulan suatu bangsa. Kedua baru deh Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita yang menunjukkan identitas kita, dan yang terakhir bahasa asing seperti yang Miss ajarkan sekarang. Jadi...saya gak peduli sebanyak apapun orang mengatakan Bahasa Inggris itu penting, orang yang gak fasih berbahasa Inggris gak akan dapet pekerjaan atau bahkan bekerja di jalanan sekalipun, toh itu pekerjaan halal. Miss gak perlu meremehkan pekerjaan seperti itu. Selama pekerjaan itu gak dilarang Allah, saya merasa itu pekerjaan yang bagus” Erik mengakhiri argumen pedasnya. Semua yang berada diruangan itu merasakan atmosfer yang menegangkan, mereka tercekat setelah melihat adegan adu debat antara Erik dan Miss Paula barusan.
            “Saya permisi...” ia melangkahkan kaki keluar kelas, kata-katanya barusan sukses membuat teman-teman sekelasnya menahan napas, begitu juga dengan Miss Paula. Hatinya terasa seperti terkena hantaman sarung tinju yang terbuat dari bongkahan es, dingin dan keras. Tubuh Erik menghilang di balik pintu, Miss Paula terdiam, mungkin ia merasa kata-katanya tadi terlalu berlebihan, tanpa memperpanjang jam pelajaran lagi, ia menyudahkan materinya, “We finish now...” kata Miss Paula lemah.
==0==
12.10 WITA
            “Lo disini ternyata” ujar Fadlan saat bertemu Erik di tempat biasa mereka mangkal.
            “Gilee, habis berdebat ama Miss Cantik udah langsung teguk aja lo, nape bro? Nyesel lo setelah semprotin dia dengan kata-kata mutiara lo?” ledek Rizky saat melihat botol bir disamping Erik.
            “Curang lo, minum sendiri...Gak inget temen lo?” tambah Bayu sambil menyikat botol bir yang isinya tinggal setengah, kemudian disusul Elang dan Fadlan.
            Erik hanya menatap keempat sahabatnya itu dengan tatapan malas, “Semua kata-kata yang keluar dari mulut gue gak akan pernah gue sesali. Mana Rio? Belum keluar juga dia?” tanya Erik.
            “Kayaknya belom tuh, waktu kita lewat kelasnya tadi Pak Hendra masih bertengger di depan kelasnya kok. Mungkin dikit lagi juga kelar” jawab Elang.
            Rio memang tak sekelas dengan kelima temannya ini. Erik, Rizky, Fadlan, Elang, dan Bayu merupakan siswa kelas 12 IPA 3, sedangkan Rio sendiri merupakan siswa kelas 12 IPS 5. Mereka memang terpaut jarak kelas yang cukup jauh, namun perbedaan kelas bukanlah penghambat bagi hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak Masa Orientasi Siswa (MOS). Segalanya dilakukan bareng-bareng, makan, tidur, trek-trekan, melancong gak jelas, godain cewek, lompat pagar, pokoknya semua deh mulai dari hal negatif sampai hal positif seperti belajar dan sholat pun dilakukan bareng-bareng, sekalipun berasal dari dua paham ilmu yang berbeda namun motto tetap mereka berlakukan ‘Yang Penting Bareng Loe Bro’.
            Lima belas menit berlalu, akhirnya yang ditunggu pun datang.
            “Woi! Lama ya? Hehe” sapa Rio sambil nyengir kuda.
            “Bangeeett...Pantat gue sampai akaran tau gak!” kata Bayu dongkol.
            “Wuidiiih, udah pindah ke jurusan bahasa lo ya? Hiperbola banget kata-kata lo, emang pantat lo pohon? Bisa akaran hahaha” balas Rio sambil tertawa kuda.
            “Bay, gue liat dong akar yang tumbuh dipantat lo itu, serabut atau tunggang? Hihihi” timpal Erik menahan tawa.
            “Serabut!!!” Jawab Bayu tambah dongkol.
            “Hahahahaha, Bay berarti pantat lo itu jagung ya? Jagung kan akarnya serabut tuh” kompor Rizky.
            “Jangan-jangan bukan pantat dia aja yang akaran, tapi ketek dia juga, ketek Bayu kan bau, pasti akarnya lebat banget kayak rambut jagung” tawa mereka makin keras saat Fadlan menambahkan.
            “Sialan! ketek lo tuh yang kayak rambut jagung!” balas Bayu tak mau kalah.
            “Halah gila lo pada, udah ah, sakit tau perut gue gara-gara kekocakan lo semua.” Ujar Elang yang sedari tadi memegang perutnya.
            “Bro, kita cabut ke masjid yok, udah jam 12 nih, sholat jumat bro sholat jumaat” ajak Rio bersemangat sambil mengeluarkan pecinya, namun yang diajak tetap hanya berdiam diri. Rio yang sadar akan tingkah kelima sahabatnya ini lalu melemparkan ekspresi ‘Kok diem?’ pada lima sahabat terbaiknya.
            Sorry, bro. Nih” ucap Erik lirih sambil menunjukkan botol bir yang telah kosong.
            “Minum?” tanya Rio, lima-limanya mengangguk sambil tersenyum.
            “Lo semua?” tanya Rio lagi, dan lima-limanya menggangguk untuk kedua kalinya, Rio melirik kelima temannya dengan wajah pasrah.
            “Kita ke rumah Fadlan aja, lo sholat disana. Kita berlima sih udah gak mungkin, habis minum sih. Sekalian kita main PS di rumah Fadlan sampai sore.” Elang mengambil keputusan seenak jidatnya.
            “Bener-bener tuh, tangan gue gatel nih pengen main PS” timpal Bayu dengan polosnya.
            “Eh Blo’on, kalo gatel mah digaruk, bukan main PS” kata Erik sambil melayangkan sebuah hantaman di kepala Bayu.
            “Elo tuh ya, ngomong seenak udel lo semua, gak minta persetujuan yang punya rumah” Fadlan pun berbicara.
            “Lo mah gituuuu, rumah lo kan yang paling deket Fad, cuma dua menit dari sini. Gak mungkin kan kita ke rumah gue? Butuh waktu sejam tau gak” kata Elang tak terima.
            “Oke deh oke, yok ah, demi kesenangan lo semua gue rela kamar gue jadi kapal pecah” Fadlan menyetujui yang kemudian dilanjutkan dengan sorak-sorai kelima cowok ganteng disekelilingnya.
            “OKEE, saatnya cabuuut” Bayu mengeluarkan kunci motor yang berada di saku celananya dan bergegas menaiki motor biru metalik yang terparkir di depannya. Begitupun yang lainnya, Elang segera merapat ke motor Bayu, Erik dan Fadlan ke motornya Erik, sementara Rio dan Rizky ke motornya Rio.
            Saat ketiga motor ini siap membelah jalanan, tiba-tiba dari arah  belakang muncul motor dengan knalpot racing yang melaju kencang dan memotong jalan yang akan dilewati keenam sahabat ini.
            “Vicky?? Napa lo bawa motor kayak kesetanan gitu?” tanya Fadlan saat melihat pemilik motor knalpot racing itu.
            Erik yang dibonceng Fadlan dengan sigap turun dari motor dan memperhatikan memar yang ada di pipi Vicky. Fadlan, Rizky, Rio, Elang, dan Bayu saling bertatapan dan memasang wajah serius pada Vicky. “Siapa?” tanya Erik to the point pada Vicky. Tanpa bertanya lebih jauh Erik sudah tau apa yang terjadi pada Vicky.
            “PrimJay...” jawab Vicky menahan amarah.
            PRANGG!!! Erik memecahkan botol bir yang dipegangnya.
            “Bangsat! Kok bisa mereka nyerang lo?” Emosi Erik meledak setelah mendengar nama SMA yang disebutkan Vicky. SMA Prima Jaya! Atau yang biasa disingkat PrimJay. Sekolah swasta yang sedari dulu menjadi musuh bebuyutan SMAN 5.
            “Mereka tiba-tiba aja nyerang gue di depan gedung parlemen daerah, gue gak bisa tangani sendiri, gue sendirian, mereka belasan, tapi untungnya gue bisa kabur” jelas Vicky.
            “Banci! Beraninya keroyokan!” geram Erik sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
            “Cabut! Kita rubah haluan. Ke gedung parlemen. Kita serang balik!” perintah Erik.
“Tapi Rik, kita Cuma berenam, sedangkan mereka...”
“Gue tau! Lo tenang aja, itu urusan gue! Semua bangsat itu gak bisa ditinggalin lama-lama, yang ada mereka malah kabur” ucap Erik tegas.
Disaat seperti ini hanya Eriklah yang bisa diandalkan, teman-temannya pun tak mengelak dengan semua perintah dadakan yang terlontar dari mulutnya. Bagi mereka Erik seperti seorang pemimpin kelompok yang tegas dan dapat dipercaya. Erik selalu tau apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang harus dijalankan disaat genting seperti ini.
Keempat motor ini pun melaju kencang meninggalkan bunyi deru motor diudara. Disepanjang jalan, Erik sama sekali tak bersuara. Ia sibuk mengutak-atik handphone-nya. Berulang kali ia berusaha menelpon beberapa orang, “Sial! Kenapa di saat kayak gini gak ada yang ngangkat telpon gue? Anjrit!” maki Erik.
“Mereka pasti lagi pelajaran makanya gak diangkat, kirim kode aja, kalo itu pasti masih bisa dibaca” usul Fadlan, terkadang anak ini otaknya lancar di saat genting kayak gini makanya Erik udah anggep Fadlan kayak penasihatnya gitu, “Pinter lo!” kata Erik sambil menjawil telinga Fadlan.
“10 2[1], 10 34[2], black cd[3] PrimJay!, 69[4] gedung parlemen” .... Erik mengirim kode pada teman-teman seperjuangannya (maksudnya teman-teman yang sama-sama berjuang di kancah tawuran dulu).
Tak lama setelah pesan Erik dikirim via SMS, balasan SMS pun masuk bertubi-tubi di inbox Erik. Dengan cepat Erik membuka pesan-pesan tersebut.
“Lab Kimia,ok 86[5]” balasan dari Viktor anak 12 IPA 1
“Sory gk ngngkt tlp lo. Gw d Kls lg pljrn, ok sip-86” balas Valdy anak 12 IPS 2
“Lab bahasa, aman bro, 86” balas Nico anak 12 Bahasa
Setelah membaca kode darurat tersebut, tanpa ba-bi-bu lagi ketiganya mengiyakan perintah Erik dengan membalas “86” dan segera meluncur ke tempat tujuan. Sudah hal biasa bagi Erik dan teman-temannya menggunakan kode-kode seperti ini, selain tidak diketahui isi dari pesan oleh orang lain, kode-kode seperti ini juga memudahkan mereka berkomunikasi di saat-saat darurat seperti ini karena tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan dan mengumpulkan teman-teman.
==0==
12.20 WITA
            Sesampainya di depan gedung parlemen, Erik cs segera menyerang anak-anak PrimJay yang lagi bertengger di motor masih-masing. Erik dan teman-temannya menyerang membabi buta dengan tangan kosong. Hanya Rio yang gak ikut menyerang, dia memberhentikan motornya agak jauh dari tempat tawuran dan menurunkan Rizky disitu, “Ri, lo gak ikut?” tanya Rizky saat tau Rio tidak turun dari motornya.
 “Gak Ky, harus ada yang jaga takutnya polisi dateng, lo pergi aja, entar gue nyusul kalau lo semua butuh tenaga lebih” jawab Rio.
“Oke, take care” Rizky berlari ke arah TKP dan membantu sahabat-sahabatnya ‘bertempur’. Rio duduk diatas motor Vixion-nya dan berjaga-jaga sambil memantau para sahabatnya kalau-kalau mereka membutuhkan dirinya.
Sedangkan disisi lain Erik dan yang lainnya sibuk mengurusi para bangsat PrimJay, jumlah mereka lebih banyak, terpaksa Erik dan Elang meladeni dua orang sekaligus. Terjadi pertarungan sengit antara kubu SMA Prima Jaya dan SMAN 5, Erik berulang kali tersungkur ke tanah karena kualahan menangani dua orang, Rizky terlihat lihai menghindari pukulan dari lawannya karena tubuhnya yang kecil dan ringan. Tapi tidak dengan Vicky, Vicky kehabisan tenaga karena telah dikeroyok sebelumnya, lebam yang tadinya hanya berukuran kecil kini terlihat semakin meluas dan berwarna merah. Sesekali Elang dan Bayu membantu Vicky untuk melawan. Fadlan sendiri sibuk menghantam mulut musuh yang diladeninya, sesekali ia dibalas dengan dorongan dan tendangan, namun tak berpengaruh pada Fadlan karena badannya yang tinggi besar. Jalanan terlihat sepi, tidak begitu banyak kendaraan yang lewat.
Lagi seru-serunya ngeliat temen-temennya beraksi dengan heroiknya, Rio lengah sehingga tidak menyadari kedatangan salah satu siswa PrimJay dibelakangnya yang kemudian memukul punggung Rio dengan menggunakan balok kayu. Bug! Suara hantaman keras terdengar jelas saat balok kayu mendarat tepat di punggung Rio. Rio terjatuh dari motornya, ia berusaha meminta tolong namun suaranya tertahan ditenggorokan karena rasa sakit yang dirasakannya, “Er...i...i...k” suara Rio lirih, siswa PrimJay itu melanjutkan penyerangannya, ditendangnya perut Rio berulang kali tanpa ampun. Ia menarik kerah baju Rio dengan kasar dan menghantam wajah Rio berulang kali.
“RIOOOO!” teriak Rizky dari kejauhan, “Rik, Rio diserang!” Rizky menambahkan dan segera berlari ke tempat Rio berada, Erik dan Fadlan menyusul dari belakang. Rizky mengambil sebuah paving block [6] dari tumpukan paving block yang ditaruh di pinggir jalan, kemudian menghantam dengan keras ke pundak siswa PrimJay itu dan ia jatuh tersungkur disebelah Rio, “Bangsat lo! Berani lo nyerang sahabat terbaik gue!” amarah Rizky meledak-ledak, tapi cowok PrimJay itu tidak selemah yang dipikirkan Rizky, disikutnya Rizky namun berhasil dihindari Rizky. Tak lama setelah itu, Fadlan dan Erik datang, masing-masing dari mereka memegang sebuah paving block sebagai senjata. Erik menghantam tulang kering cowok itu sehingga ia tak bisa bangun. Cowok itu tergeletak lemah di tanah, Fadlan menahan kedua tangan cowok itu dan menghantam jari-jemarinya dengan paving block, Fadlan dan Erik memiliki pemikiran yang sama ‘Serang alat geraknya agar tak bisa berkutik’.
Rio mencoba untuk bangkit, disekanya darah yang keluar dari mulutnya, saat bangkit berdiri dilihatnya beberapa pria berompi hijau stabilo di kejauhan, POLISI!
“POLISI!! Ada polisi dateng!” teriak Rio pada teman-temannya.
“Cepet kita cabut!!” kata Erik dan ia segera berlari ke arah motor Fadlan, begitu pun dengan Fadlan. Baik itu siswa PrimJay maupun SMAN 5 semuanya lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Begitu pun dengan cowok yang tadi dihajar habis-habisan oleh Erik, Rizky, dan Fadlan, padahal kaki dan tangannya sudah dihantam paving block berulang kali tapi ia tak peduli dengan rasa sakitnya, yang ada dipikiran mereka semua sekarang adalah ‘Jangan sampai tertangkap polisi!’.
Sebagian anak-anak SMAN 5 sudah kabur, tersisa Rio dan Rizky di TKP, Rio sudah berada diatas motor Vixionnya, menaikkan standar, dan menyalakan motor, “Rizky! Cepetan!” teriak Rio. Rizky masih mengambil tasnya yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri, emang sih disaat kayak gini tas gak begitu penting dan kalo ditinggalin gitu aja gak apa-apa, yang penting diri bisa selamat dari cengkeraman polisi, tapiiii kalo tas kita isinya itu barang-barang elektronik seharga jutaan ya gak bisa ditinggalin gitu aja dong. Dengan gesit Rizky mengambil tasnya yang berisi laptop dan segera menaiki motor Vixionnya Rio, tapi belum sempat Rizky mendudukan pantatnya, Rio keburu menancapkan gas, sialnya Rio salah memasukan perseneling sehingga ban depan motor terangkat. Alhasil Rizky yang tak bisa menyeimbangkan tubuh akhirnya terjatuh dari motor, Rio yang saat itu dalam kondisi gugup masih tetap menahan gas motornya, motor pun terus melaju hingga ke tengah jalan, di saat yang bersamaan sebuah mobil kijang melaju kencang dari arah belakang, “Rioo! Mob....” BRAAAAKKKK! Rizky tak sempat memperingati Rio, mobil kijang berwarna biru tersebut terlanjur menghantam motor yang dikendarai Rio, seketika tubuhnya terhempas ke bahu jalan, sedangkan motornya terus terseret ban mobil dan berhenti setelah sang sopir kijang mengerem tajam, terdengar bunyi rem yang melengking kuat. Semua orang yang menyaksikan kejadian mengerikan tersebut hanya terdiam, terkejut dengan apa yang dilihat barusan. Jalur yang melewati gedung parlemen ada dua jalur, jalur yang berada tepat di depan gedung parlemen adalah jalur lalu lintas kendaraan yang mengarah ke kiri gedung disitulah kecelakaan terjadi, sedangkan jalur yang ada diseberangnya adalah jalur lalu lintas kendaraan yang mengarah ke kanan gedung. Zaenal, salah seorang siswa SMAN 5 yang ikut tawuran menyaksikan kecelakaan yang menimpa Rio dari jalur jalan yang berada diseberang tersebut. Ia pun menghentikan motor dan berlari ke arah tempat kecelakaan. Rizky yang masih tergeletak berusaha bangun dan menolong Rio, kaki dan tangannya gemetaran, keringat sebesar biji jagung mengalir deras dipelipisnya. Matanya hanya tertuju pada tubuh Rio yang berada dibahu jalan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
13.15 WITA
            Tak lama setelah kecelakaan tragis itu hujan pun turun, menambah suasana kelam di sekitar tempat kejadian.
“Ri....o, Riioo, Ri...!” dengan rasa gemetar yang kian hebat, Rizky berusaha menopang tubuh Rio dengan mengangkat lehernya dan menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu berharap masih bisa membuatnya sadar. Namun naas, Rio terluka parah, Rizky bahkan tak sanggup melihat kondisi wajah Rio, hidung, telinga, mulut, dan kepalanya mengeluarkan darah segar, rahang atas dan rahang bawahnya sudah tak beraturan, matanya merah karena perdarahan dalam, mungkin karena terbentur aspal saat terhempas tadi. Rio terus membuka matanya dan menatap Rizky, ia seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu pada Rizky tapi tak mampu dilakukannya, Napas Rio terlihat hanya setengah-setengah, sesaat Rio menghela napas panjang, “RIO!!” panggil Rizky, “Lo harus bertahan Ri!” teriak Rizky pada Rio.
“Rizky...!” ucap Zaenal saat mendekati Rizky, “Rio?? Gimana Rio??” suara Zaenal bergetar, ia juga syok dengan apa yang dilihatnya dari seberang jalan tadi.
“Cepet minta tolong polisi-polisi itu! Kita harus bawa Rio ke rumah sakit sekarang juga, kalo gak dia bisa mati!” perintah Rizky.  Zaenal segera pergi meminta bantuan. Rizky melihat Zaenal yang berusaha meminta bantuan polisi dari kejauhan, terlihat Zaenal sedang memohon pada polisi namun terlihat jelas respon polisi yang tidak begitu menyenangkan, Zaenal malah balik dimarahi. Zaenal kembali ke tempat Rizky sambil menggeleng lemah, “Bangsat!” rutuk Rizky. Dilihatnya lagi temannya yang bersimbah darah, napas Rio mulai melemah, ‘Harus cepat!’ batinnya. Sepasang suami istri pemilik mobil kijang terlihat ketakutan, si suami berusaha menenangkan istrinya yang sedang hamil tua, ‘Tapi tidak mungkin membawa Rio memakai mobil kijang yang tadi menabraknya, mobil ini juga rusak berat dan pasti mobil ini akan dijadikan barang bukti, Gue harus gimana?? Ayo berpikirrr…” Rizky berpikir keras. Kemudian dibaringkannya tubuh Rio perlahan, ia menyusuri keadaan sekelilingnya dan mengambil sebuah batu yang ada dipinggir jalan.   
‘Ini emang ide gila…Ah sebodo amat! Yang penting Rio selamet’ pikir Rizky sambil memandang batu yang dipegangnya. Sesaat kemudian sebuah mobil pick up lewat di depan mereka, Rizky memasang ancang-ancang untuk melempar, Wuuuss... dilemparnya batu seukuran kepalan tangan itu ke arah kaca belakang mobil pick up, Bug! Mobil pun berhenti. Seorang pria setengah baya keluar dari mobil sambil memaki-maki, Rizky dan Zaenal langsung membopong tubuh Rio dan menaruhnya di bak belakang mobil pick up tanpa minta ijin terlebih dulu pada yang empunya mobil. “Pak ayo jalan pak, temen saya kecelakaan, kondisinya parah banget, kita harus bawa ke rumah sakit, saya mohon pak kali ini aja tolongin saya, ya pak ya, ayo pak harus segera pak” pinta Rizky bertubi-tubi, yang empunya mobil yang tadinya mau marah sekarang malah jadi gugup saat melihat Rizky yang bajunya bersimbah darah, dilihatnya Rio yang sudah ada di atas pick up miliknya, “ii..iya iya” dengan sigap ia melesat masuk ke kursi sopir dan menyalakan mobilnya, Rizky menggedor-gedor jendela belakang mobil sambil mengatakan ‘Jalan! Jalan!’ . Mobil pun melesat kencang.
Setelah memastikan mobil pick up itu membawa Rio bersama Zaenal, Rizky segera lari meninggalkan TKP tanpa diketahui oleh polisi, ia tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan polisi-polisi itu toh mereka pun tak membantu sedikit pun, ‘Dasar brengsek!’ makinya dalam hati. Yang dilakukan Rizky hanya berlari dan berlari, tujuannya hanya satu, bertemu Erik dan teman-teman yang lainnya! Setiap orang yang dilewatinya terheran-heran saat melihat Rizky, baju pramuka yang tadinya berwarna coklat sekarang berubah warna menjadi coklat kehitaman karena darah Rio. Ia tak peduli apa kata orang, ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana, Erik harus tahu apa yang terjadi tadi. ‘Di saat-saat seperti ini kenapa pulsa gue habis sih?? Jadinya gue mesti lari-larian gak jelas gini’ gerutu Rizky.
==0==
            Sudah hampir sepuluh menit Erik terus saja mondar-mandir tak jelas, sedangkan yang lainnya hanya terduduk, wajah mereka kusut bukan main. “Arrrgggh! Mana sih si Rizky??? Bikin gue khawatir aja” Erik mengerang, ternyata yang ditunggu-tunggu adalah Rizky.
            Jangan-jangan, dia ama Rio ketangkep lagi…” kata Bayu menduga-duga.
            “Waduh bisa berabe nih kalo mereka ketangkep, pasti kita semua bakalan ikut terseret” timpal Elang, sambil mengacak-acak rambut spike-nya. BUG! Erik melampiaskan stressnya dengan menghantam sebuah pohon beringin. Dadanya naik turun, ia berusaha mengontrol emosi yang menguasai dirinya. Teman-temannya hanya terdiam, mereka tak berani berkicau, kalau tidak hantaman Erik akan mendarat kearah mereka.
            Tiba-tiba Rizky muncul dari gang yang berada disebelah kiri tempat mereka mangkal, ia terengah-engah, keringat mengucur deras ditubuhnya. “Rizky!” Fadlan terlonjak kaget saat melihat Rizky yang tiba-tiba muncul, saat mendengar nama ‘Rizky’ kepala Erik serasa meledak, ia tak mampu mengendalikan diri lagi, secepat kilat ia mendekat kearah Rizky dan siap melayangkan kepalan tangannya ke wajah Rizky, namun usahanya tertahan saat dilihatnya seragam Rizky yang bersimbah darah, Rizky hanya menatap Erik dengan tatapan kosong.
            “Siapa?” Tanya erik dengan nada suara yang tertahan.
            “Rio…” semua tercekat mendengar jawaban Rizky.
==0==
15.00 WITA – Gedung parlemen
            “Harusnya tadi kita tetep nganter dia ke masjid, bukannya ngajak tawuran…” untuk kelima kalinya Bayu mengatakan kalimat itu. Dan untuk kesekian kalinya keempat sahabat ini menghela napas panjang. Penyesalan melanda pikiran mereka. Mereka menatap tempat kecelakaan terjadi dengan wajah mendung. Ya, beberapa jam setelah kejadian mereka kembali ke gedung parlemen tempat mereka tawuran tadi sekaligus tempat kecelakaan tragis yang menimpa sahabat mereka. Polisi sudah tidak terlihat lagi sejak setengah jam yang lalu, lalu lintas pun sudah lancar seperti biasanya. Bau tanah tercium setelah hujan berhenti.
            “Harusnya tadi kita ….”
            “Udahlah Bay, jangan diomongin lagi…Ini bukan salah kita juga, mungkin ini emang udah jalannya Rio” Elang memotong ucapan Bayu yang mencoba mengatakan kalimat yang sama untuk keenam kalinya.
            “Apa dia selamet? Kenapa belum ada kabar juga dari Zaenal?” Tanya Erik.
            “Be…” Drrrt Drrrt Drrrt, belum sempat menjawab pertanyaan Erik Handphone Fadlan tiba-tiba bergetar, cepat-cepat diambilnya handphone itu, “Telpon dari Zaenal!” ditekannya tombol penerima panggilan, “Nal??? Gimana Rio??” Tanya Fadlan. Dari ujung telpon tak terdengar suara Zaenal, “Nal! Jawab dong. Gimana Rio??” bentak Fadlan. Elang, Bayu, Rizky, dan Erik bangkit berdiri dan memasang wajah penasaran.
            Sesaat wajah Fadlan memucat, “Kenapa Fad?” Tanya Erik penasaran, Fadlan tak menjawab, “FAD!!! Gimana Rio???” Erik mengguncang tubuh besar Fadlan.
            Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un…” kata Fadlan dengan tatapan kosong.
==0==
Seminggu kemudian…
            Usai pelajaran pertama Rizky segera merapikan buku-bukunya dan segera pulang, ya sudah seminggu Rizky seperti ini. Ia tidak mengikuti pelajaran kedua dan ketiga, setelah pelajaran pertama selesai ia pasti langsung pulang. Ia juga sering datang terlambat bahkan les tambahan yang diadakan sekolah untuk mempersiapkan Ujian Nasional pun tidak sempat diikutinya. Ia berusaha menjauh dari orang-orang sekolah. Ia tidak ingin di serang oleh berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan padanya sehubungan dengan kematian Rio. Gosip beredar bahwa Rizky berada di tempat kejadian saat itu dan hanya Rizky lah yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, makanya begitu banyak orang yang tiba-tiba beralih profesi menjadi wartawan dadakan dan mengincarnya untuk dimintai keterangan.
            Erik, Bayu, dan Elang tidak begitu banyak ditanyai tentang Rio, palingan mereka hanya ditanya ‘dimana keberadaan Rizky?’, ‘kenapa dia gak ikut pelajaran dan les?’, dan masih banyak serangkaian pertanyaan menyangkut Rizky, “Rizky udah kayak artis dadakan aja, ditanyain mulu” kata Bayu suatu kali. Tapi jawaban yang mereka berikan hanya ‘Gak tahu’, mereka juga malas membahas hal tersebut. Berurusan dengan teman-teman sendiri saja malasnya bukan main, apalagi berurusan dengan para guru, alhasil selama seminggu ini kelima sahabat ini menonaktifkan handphone mereka agar tidak dapat diganggu. Mereka berlima sepakat untuk menutup mulut mereka rapat-rapat mengenai Rio, mereka merahasiakan apa yang terjadi. Pertama kali dalam hidup mereka menyembunyikan sebuah rahasia besar ini dari para teman, guru, dan bahkan orang tua mereka. Hanya mereka berlima dan teman-teman ‘seperjuangan’ mereka yang tahu, entah sampai kapan mereka menyembunyikan cerita sebenarnya, tak ada yang tahu.
==0==
Dua tahun kemudian…
7 Maret 2014
            “Jadi selama dua tahun lo ama temen-temen lo ngerahasiain kejadian itu dari semua orang???” tanya Puput.
            “Iyaaa, mau temen kek, guru kek, bahkan orang tua kita sekalipun gak ada yang tau kalo kecelakaan itu berawal dari tawuran” jawab Rizky.
            “Orang tua Rio pun sama sekali gak tau???”
            “Ya iyalah, kalo orang tuanya sampai tahu, kita gak mungkin diijinin ikut penguburannya, pasti mereka berpikir kalo kita penyebab kematiannya,  yang ada kita malah diusir”
            “Kok bisa mereka sampe gak tau? Kan ada polisi yang urusin kejadian itu, emang polisi gak ngasih informasi kejadiannya?”
            “Enggak kok, mereka cuma ngasi pernyataan kalo Rio itu meninggal murni karena kecelakaan, gak ada hubungan sama sekali dengan tawuran.” Jelas Rizky.
            “Kok bisa?”
            “Ya iyalah bisa, itu urusan kita ama para polisi, orang lain gak boleh tau! Udah ah banyak nanya deh”
            “Yaelah, lo sendiri yang cerita ke gue, gimana gue gak penasaran, seru banget cerita lo sih, cerita lagi dong Ky”
            “Udah ah, cukup segitu aja lo taunya, gak boleh lebih, ini rahasia gue ama temen-temen gue  semasa SMA. Cabut yuk, bentar lagi kuliah” Rizky beranjak dari bangku tempat ia dan Puput duduk.
            “Bentar lagi dehh, gue masih pengen disini”
            “Ahh males ah, kalo lama-lama disini gue jadi inget lagi kejadian itu, biarpun udah lewat dua tahun tapi gue masih trauma tau! Cabut yuk” Kata Rizky sambil melihat tempat kejadian tragis itu dari Taman Kota yang berada di seberang gedung parlemen. Kemudian Rizky menarik tangan pacarnya itu dan mereka berjalan mendekati motor Rizky yang diparkir tak jauh dari bangku taman yang mereka duduki tadi.
            Motor yang dikendarai Rizky dan Puput melaju meninggalkan Taman Kota, “Put, kita singgah ke tempat Rio dulu ya?” pinta Rizky dari balik helmnya.
            “Emang mau ngapain?” tanya Puput.
            “Gue mau naruh buket bunga, sekalian bakarin lilin. Dia ulang tahun hari ini”
            “Oke deh.” Rizky membelokan motornya ke jalur menuju gedung parlemen. Ia menepikan motornya ke sebuah tumpukan batu yang disusun rapi. Ada sisa-sisa lilin yang meleleh dan bunga rampai di atas batu-batu tersebut, ‘Sepertinya Erik dan yang lain sudah lebih dulu memberi ucapan pada Rio’ batin Rizky. Rizky dan Puput turun dari motor, Rizky menaruh buket bunga lily yang dibelinya di atas tumpukan batu tersebut. Dinyalakannya sebuah lilin dan membiarkannya terus menyala di atas batu. “Happy birthday sahabat terbaik…semoga tenang disana ya, kita semua disini kangen ama lo…Kangen lelucon lo, kangen ketawa ngakak lo yang kayak kuda, kangen waktu lo pamerin otot lengan lo yang sebenarnya gak berotot itu…Lo yang terbaik my brother” Rizky tertunduk, Puput yang melihat raut kesedihan di wajah Rizky sambil menepuk pundak Rizky, berusaha menguatkan pacarnya tersebut, “Udah tenang? Pamitan gih ama Rio, kita udah harus balik, bentar lagi kuliah” katanya lembut sambil tersenyum. Rizky membalas senyuman manis Puput, diusapnya kepala Puput, “Oke sayang”. Rizky kembali memalingkan wajahnya kearah tumpukan batu tadi, menyentuh tumpukan batu yang tersusun itu dengan jari-jemarinya, “Gue balik ya Ri, sorry gue gak bisa lama-lama, take care my brother Rio, selamat beristirahat.” Sebelum beranjak dari tempat itu Rizky menyisipkan secarik kertas kecil di tumpukan batu itu, ‘Pertemuan kita hanya bersifat sementara tetapi perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya. Dan sahabat adalah selamanya. You always be my best friend Rio!

TAMAT


[1]10 2       : Posisi dimana
[2]10 34    : Butuh bantuan
[3] Black cd : penyerangan
[4] 69         : merapat
[5] 86         : siap/menuju
[6] beton yang dipergunakan untuk mengeraskan permukaan tanah. Bentuknya ada yang berupa balok atau pun segi enam. Paving block sering dipergunakan untuk mengeraskan jalan, trotoar,  halaman kantor atau rumah atau pun areal parkir