Hai guys, postingan kali ini saya akan memuat tentang salah satu karya tulis saya yaitu sebuah cerpen yang menceritakan kisah anak-anak SMA. Cerita ini terilhami dari kisah nyata yang terjadi saat saya masih di bangku SMA yang kemudian sedikit di "modifikasi" untuk kenyamanan bersama. Mohon maaf bila ada kesamaan nama/tempat/asal sekolah, karena pemilihan nama pada cerita ini hanyalah fiktif dan tidak benar-benar ada.
Secarik Kertas untuk RIO
9.30
WITA
“Kalau Anda mengamati, maka kalimat diatas semuanya menggunakan
PREDICATE-1 atau predikat dalam
bentuk 1, lihat saja to-be nya tidak
lepas dari AM – IS – ARE. Contoh ini adalah The simple present tense
dalam bentuk nominal, karena semua kalimatnya menggunakan tobe-1” jelas Miss Paula panjang lebar mencoba mentransfer ilmu present tense-nya pada murid-murid, dan
yang lebih wow nya lagi beliau menjelaskan hanya dengan satu tarikan napas.
Dug dug dug, suara meja yang dipukul membahana ke
sudut-sudut kelas, sebagian murid yang sedang fokus di papan tulis menoleh ke
sumber suara, begitu juga dengan sebagian murid yang sibuk dengan kelopak
matanya yang berusaha terpejam, “Miss jam pelajaran udah lewat dari sepuluh
menit yang lalu nih”, sahut Erik di tengah pelajaran Bahasa Inggris yang sedang
berlangsung. Miss Paula menurunkan kacamata bulatnya dan menyipitkan matanya
dengan tajam pada Erik, “Hey
you, you do not know I was speaking now?? (Hei kamu,
kamu tidak tahu saya masih berbicara sekarang?)” balasnya dengan aksen Inggris
yang kental.
Erik
memasang tampang blo’on, “Mm hehe, maaf ya Miss, bukannya saya
becanda, tapi serius deh barusan tuh Miss ngomong apaan sih? Jujur aja Miss
saya gak ngerti ucapan Miss tadi” jawab Erik sambil garuk-garuk kepala, seketika
suara tawa satu kelas pun pecah memenuhi ruangan.
“Shut up!!!
(diam!!!)” bentak Miss Paula, kelas hening dalam sekejap.
“How
dare you
screw up in my lesson! (Berani-beraninya
kamu mengacau dalam pelajaran saya!)” tambah Miss Paula dengan suara tajam pada
Erik, yang di bentak hanya diam membisu. Bukan karena takut, tapi karena gak
ngerti apa yang dibicarakan. Walaah.
“Miss marah karna lo mengacau dalam kelasnya...” bisik Fadlan
teman sebangku Erik.
“Oooooh...” yang dimarahi ber “o” ria.
“Miss,
gini ya Miss, bukannya saya mau mengacau, tapi Miss udah ngajar lewat jam, kita
yang diajar aja udah gak konsentrasi. Kita...hungry Miss, Iya kan temen-temen?
emang Miss gak laper?” tambah Erik.
“Out!!! You cannot
take my lessons again!
(Keluar!!! Kamu tidak boleh ikut pelajaran saya lagi!)”.
Lagi-lagi yang dibentak hanya bengong kayak anjing lapar,
“Rik, lo disuruh keluar, lo gak boleh ikut pelajaran Miss lagi” bisik Fadlan
(lagi).
“Apa??? Kok Miss gitu? Emang salah saya apa Miss? Kan alasan
saya emang bener, jam pelajaran kan udah lewat sepuluh menit yang lalu, eh,
enggak udah lima belas menit sekarang. Dan satu lagi Miss, bisa gak ngomongnya
pakai bahasa Indonesia aja? Kasian temen saya jadi penerjemah mendadak nih Miss”
katanya sambil melirik Fadlan yang kemudian melotot tajam pada Erik.
“Tanpa kamu berkoar-koar pun saya sudah tahu! Tapi materi
yang harus saya berikan ke kalian ini sangat penting, kalau belajarnya lewat
sedikit kan gak apa-apa, kalian ini banyak sekali protesnya. Kamu tahu tidak
Bahasa Inggris itu penting? Dimana-mana orang akan membutuhkan seseorang yang
fasih berbahasa Inggris. Mau kemana kamu kalau kamu tidak fasih berbahasa
Inggris? Palingan kerja dipinggir jalanan” Sindir Miss Paula.
Wajah Erik yang tadinya blo’on kini berubah serius,
pandangan bola matanya mengarah tepat pada satu titik. Bola mata Miss Paula. Ia
berdiri dengan wajah sedingin es, dengan kedua tangan berada disaku celana, ia melangkahkan
kaki dari singgasananya yang berada di sudut belakang menuju ke depan kelas.
Tak ada yang berani bersuara. Hanya suara langkah kaki Erik yang terdengar. Kini
keduanya saling berhadapan. Mereka saling bertatapan tajam.
“Miss Paula yang saya hormati dan yang saya hargai...” Erik
buka suara.
“Perkenalkan, nama saya Erik Luthfi Hidayat, 18 tahun. Asal
saya Solo-Jawa Tengah, mm orang Indonesia asli lebih tepatnya. Saya adalah
siswa yang tidak fasih berbahasa Inggris, dan saya sadar akan kekurangan saya
itu. Oleh karena itu saya mengikuti jam pelajaran Miss. Tapi
sepenting-pentingnya pelajaran bahasa Inggris, saya lebih memilih tidak fasih
berbahasa Inggris ketimbang tidak fasih berbahasa Indonesia, terlebih lagi
tidak bisa bahasa Jawa yang notabene adalah bahasa ibu bagi orang bersuku Jawa
seperti saya. Bagi saya, bahasa ibu sebagai bahasa yang pertama yang punya daya
pengaruh lebih kuat terhadap perkembangan intelektual dan mental kalo
dibandingkan dengan bahasa lainnya. Miss tau gak? Sekarang ini nasib bahasa ibu
makin sekarat, trend dunia saat ini adalah Think
globally, act locally. Artinya bahasa ibu atau bahasa daerah sangat penting
diperhatikan dan dijaga keberlangsungannya demi menjaga keunggulan suatu
bangsa. Kedua baru deh Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita yang
menunjukkan identitas kita, dan yang terakhir bahasa asing seperti yang Miss
ajarkan sekarang. Jadi...saya gak peduli sebanyak apapun orang mengatakan
Bahasa Inggris itu penting, orang yang gak fasih berbahasa Inggris gak akan dapet
pekerjaan atau bahkan bekerja di jalanan sekalipun, toh itu pekerjaan halal. Miss
gak perlu meremehkan pekerjaan seperti itu. Selama pekerjaan itu gak dilarang
Allah, saya merasa itu pekerjaan yang bagus” Erik mengakhiri argumen pedasnya.
Semua yang berada diruangan itu merasakan atmosfer yang menegangkan, mereka
tercekat setelah melihat adegan adu debat antara
Erik dan Miss Paula barusan.
“Saya permisi...” ia melangkahkan kaki keluar kelas,
kata-katanya barusan sukses membuat teman-teman sekelasnya menahan napas,
begitu juga dengan Miss Paula. Hatinya terasa seperti terkena hantaman sarung
tinju yang terbuat dari bongkahan es, dingin dan keras. Tubuh Erik menghilang
di balik pintu, Miss Paula terdiam, mungkin ia merasa kata-katanya tadi terlalu
berlebihan, tanpa memperpanjang jam pelajaran lagi, ia menyudahkan materinya, “We
finish now...” kata Miss Paula lemah.
==0==
12.10 WITA
“Lo disini ternyata” ujar Fadlan saat bertemu Erik di
tempat biasa mereka mangkal.
“Gilee, habis berdebat ama Miss Cantik udah langsung
teguk aja lo, nape bro? Nyesel lo setelah semprotin dia dengan kata-kata
mutiara lo?” ledek Rizky saat melihat botol bir disamping Erik.
“Curang lo, minum sendiri...Gak inget temen lo?” tambah Bayu
sambil menyikat botol bir yang isinya tinggal setengah, kemudian disusul Elang
dan Fadlan.
Erik hanya menatap keempat sahabatnya itu dengan tatapan
malas, “Semua kata-kata yang keluar dari mulut gue gak akan pernah gue sesali. Mana
Rio? Belum keluar juga dia?” tanya Erik.
“Kayaknya belom tuh, waktu kita lewat kelasnya tadi Pak
Hendra masih bertengger di depan kelasnya kok. Mungkin dikit lagi juga kelar”
jawab Elang.
Rio memang tak sekelas dengan kelima temannya ini. Erik,
Rizky, Fadlan, Elang, dan Bayu merupakan siswa kelas 12 IPA 3, sedangkan Rio
sendiri merupakan siswa kelas 12 IPS 5. Mereka memang terpaut jarak kelas yang
cukup jauh, namun perbedaan kelas bukanlah penghambat bagi hubungan
persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak Masa Orientasi Siswa (MOS).
Segalanya dilakukan bareng-bareng, makan, tidur, trek-trekan, melancong gak
jelas, godain cewek, lompat pagar, pokoknya semua deh mulai dari hal negatif
sampai hal positif seperti belajar dan sholat pun dilakukan bareng-bareng,
sekalipun berasal dari dua paham ilmu yang berbeda namun motto tetap mereka
berlakukan ‘Yang Penting Bareng Loe Bro’.
Lima belas menit berlalu, akhirnya yang ditunggu pun
datang.
“Woi! Lama ya? Hehe” sapa Rio sambil nyengir kuda.
“Bangeeett...Pantat gue sampai akaran tau gak!” kata Bayu
dongkol.
“Wuidiiih, udah pindah ke jurusan bahasa lo ya? Hiperbola
banget kata-kata lo, emang pantat lo pohon? Bisa akaran hahaha” balas Rio sambil tertawa kuda.
“Bay, gue liat dong akar yang tumbuh dipantat lo itu, serabut
atau tunggang? Hihihi” timpal Erik menahan tawa.
“Serabut!!!” Jawab Bayu tambah dongkol.
“Hahahahaha, Bay berarti pantat lo itu jagung ya? Jagung
kan akarnya serabut tuh” kompor Rizky.
“Jangan-jangan bukan pantat dia aja yang akaran, tapi
ketek dia juga, ketek Bayu kan bau, pasti akarnya lebat banget kayak rambut jagung” tawa mereka makin keras
saat Fadlan menambahkan.
“Sialan! ketek lo tuh yang kayak rambut jagung!” balas
Bayu tak mau kalah.
“Halah gila lo pada, udah ah, sakit tau perut gue gara-gara
kekocakan lo semua.” Ujar Elang yang sedari tadi memegang perutnya.
“Bro, kita cabut ke masjid yok, udah jam 12 nih, sholat jumat bro sholat jumaat” ajak Rio bersemangat
sambil mengeluarkan pecinya, namun yang diajak tetap hanya berdiam diri. Rio
yang sadar akan tingkah kelima sahabatnya ini lalu melemparkan ekspresi ‘Kok
diem?’ pada lima sahabat terbaiknya.
“Sorry, bro. Nih” ucap Erik lirih sambil
menunjukkan botol bir yang telah kosong.
“Minum?” tanya Rio, lima-limanya mengangguk sambil
tersenyum.
“Lo semua?” tanya Rio lagi, dan lima-limanya menggangguk
untuk kedua kalinya, Rio melirik kelima temannya dengan wajah pasrah.
“Kita ke rumah Fadlan aja, lo sholat disana. Kita berlima
sih udah gak mungkin, habis minum sih. Sekalian kita main PS di rumah Fadlan
sampai sore.” Elang mengambil keputusan seenak jidatnya.
“Bener-bener tuh, tangan gue gatel nih pengen main PS”
timpal Bayu dengan polosnya.
“Eh Blo’on, kalo gatel mah digaruk, bukan main PS” kata
Erik sambil melayangkan sebuah hantaman di kepala Bayu.
“Elo tuh ya, ngomong seenak udel lo semua, gak minta
persetujuan yang punya rumah” Fadlan pun berbicara.
“Lo mah gituuuu, rumah lo kan yang paling deket Fad, cuma
dua menit dari sini. Gak mungkin kan kita ke rumah gue? Butuh waktu sejam tau
gak” kata Elang tak terima.
“Oke deh oke, yok ah, demi kesenangan lo semua gue rela
kamar gue jadi kapal pecah” Fadlan menyetujui yang kemudian dilanjutkan dengan
sorak-sorai kelima cowok ganteng disekelilingnya.
“OKEE, saatnya cabuuut” Bayu mengeluarkan kunci motor
yang berada di saku celananya dan bergegas menaiki motor biru metalik yang
terparkir di depannya. Begitupun yang lainnya, Elang segera merapat ke motor
Bayu, Erik dan Fadlan ke motornya Erik, sementara Rio dan Rizky ke motornya Rio.
Saat ketiga motor ini siap membelah jalanan, tiba-tiba
dari arah belakang muncul motor dengan
knalpot racing yang melaju kencang dan memotong jalan yang akan dilewati keenam
sahabat ini.
“Vicky?? Napa lo bawa motor kayak kesetanan gitu?” tanya
Fadlan saat melihat pemilik motor knalpot racing itu.
Erik yang dibonceng Fadlan dengan sigap turun dari motor
dan memperhatikan memar yang ada di pipi Vicky. Fadlan, Rizky, Rio, Elang, dan
Bayu saling bertatapan dan memasang wajah serius pada Vicky. “Siapa?” tanya
Erik to the point pada Vicky. Tanpa
bertanya lebih jauh Erik sudah tau apa yang terjadi pada Vicky.
“PrimJay...” jawab Vicky menahan amarah.
PRANGG!!! Erik memecahkan botol bir yang dipegangnya.
“Bangsat! Kok bisa mereka nyerang lo?” Emosi Erik meledak
setelah mendengar nama SMA yang disebutkan Vicky. SMA Prima Jaya! Atau yang
biasa disingkat PrimJay. Sekolah swasta yang sedari dulu menjadi musuh
bebuyutan SMAN 5.
“Mereka tiba-tiba aja nyerang gue di depan gedung parlemen
daerah, gue gak bisa tangani sendiri, gue sendirian, mereka belasan, tapi
untungnya gue bisa kabur” jelas Vicky.
“Banci! Beraninya keroyokan!” geram Erik sambil
mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
“Cabut! Kita rubah haluan. Ke gedung parlemen. Kita serang
balik!” perintah Erik.
“Tapi
Rik, kita Cuma berenam, sedangkan mereka...”
“Gue
tau! Lo tenang aja, itu urusan gue! Semua bangsat itu gak bisa ditinggalin
lama-lama, yang ada mereka malah kabur” ucap Erik tegas.
Disaat
seperti ini hanya Eriklah yang bisa diandalkan, teman-temannya pun tak mengelak
dengan semua perintah dadakan yang terlontar dari mulutnya. Bagi mereka Erik
seperti seorang pemimpin kelompok yang tegas dan dapat dipercaya. Erik selalu
tau apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang harus dijalankan disaat
genting seperti ini.
Keempat
motor ini pun melaju kencang meninggalkan bunyi deru motor diudara. Disepanjang
jalan, Erik sama sekali tak bersuara. Ia sibuk mengutak-atik handphone-nya. Berulang
kali ia berusaha menelpon beberapa orang, “Sial! Kenapa di saat kayak gini gak
ada yang ngangkat telpon gue? Anjrit!” maki Erik.
“Mereka
pasti lagi pelajaran makanya gak diangkat, kirim kode aja, kalo itu pasti masih
bisa dibaca” usul Fadlan, terkadang anak ini otaknya lancar di saat genting
kayak gini makanya Erik udah anggep Fadlan kayak penasihatnya gitu, “Pinter
lo!” kata Erik sambil menjawil telinga Fadlan.
“10
2[1],
10 34[2],
black cd[3] PrimJay!,
69[4] gedung
parlemen” .... Erik mengirim kode pada teman-teman ‘seperjuangannya’ (maksudnya teman-teman yang
sama-sama berjuang di kancah tawuran dulu).
Tak
lama setelah pesan Erik dikirim via SMS, balasan SMS pun masuk bertubi-tubi di
inbox Erik. Dengan cepat Erik membuka pesan-pesan tersebut.
“Lab
Kimia,ok 86[5]”
balasan dari Viktor anak 12 IPA 1
“Sory
gk ngngkt tlp lo. Gw d Kls lg pljrn, ok sip-86” balas Valdy anak 12 IPS 2
“Lab
bahasa, aman bro, 86” balas Nico anak 12 Bahasa
Setelah
membaca kode darurat tersebut, tanpa ba-bi-bu lagi ketiganya mengiyakan
perintah Erik dengan membalas “86” dan segera meluncur ke tempat tujuan. Sudah hal biasa bagi Erik dan
teman-temannya menggunakan kode-kode seperti ini, selain tidak diketahui isi
dari pesan oleh orang lain, kode-kode seperti ini juga memudahkan mereka
berkomunikasi di saat-saat darurat seperti ini karena tidak perlu panjang lebar
untuk menjelaskan dan mengumpulkan teman-teman.
==0==
12.20 WITA
Sesampainya di depan gedung parlemen, Erik cs segera
menyerang anak-anak PrimJay yang lagi bertengger di motor masih-masing. Erik dan
teman-temannya menyerang membabi buta dengan tangan kosong. Hanya Rio yang gak
ikut menyerang, dia memberhentikan motornya agak jauh dari tempat tawuran dan
menurunkan Rizky disitu, “Ri, lo gak ikut?” tanya Rizky saat tau Rio tidak
turun dari motornya.
“Gak Ky, harus ada yang jaga takutnya polisi
dateng, lo pergi aja, entar gue nyusul kalau lo semua butuh tenaga lebih” jawab Rio.
“Oke,
take care” Rizky berlari ke arah TKP
dan membantu sahabat-sahabatnya ‘bertempur’. Rio duduk diatas motor Vixion-nya
dan berjaga-jaga sambil memantau para sahabatnya kalau-kalau mereka membutuhkan dirinya.
Sedangkan
disisi lain Erik dan yang lainnya sibuk mengurusi para bangsat PrimJay, jumlah
mereka lebih banyak, terpaksa Erik dan Elang meladeni dua orang sekaligus. Terjadi
pertarungan sengit antara kubu SMA Prima Jaya dan SMAN 5, Erik berulang kali
tersungkur ke tanah karena kualahan menangani dua orang, Rizky terlihat lihai menghindari
pukulan dari lawannya karena tubuhnya yang kecil dan ringan. Tapi tidak dengan
Vicky, Vicky kehabisan tenaga karena telah dikeroyok sebelumnya, lebam yang
tadinya hanya berukuran kecil kini terlihat semakin meluas dan berwarna merah.
Sesekali Elang dan Bayu membantu Vicky untuk melawan. Fadlan sendiri sibuk
menghantam mulut musuh yang diladeninya, sesekali ia dibalas dengan dorongan
dan tendangan, namun tak berpengaruh pada Fadlan karena badannya yang tinggi
besar. Jalanan terlihat sepi, tidak begitu banyak kendaraan yang lewat.
Lagi
seru-serunya ngeliat temen-temennya beraksi dengan heroiknya, Rio lengah
sehingga tidak menyadari kedatangan salah satu siswa PrimJay dibelakangnya yang
kemudian memukul punggung Rio dengan menggunakan balok kayu. Bug! Suara hantaman
keras terdengar jelas saat balok kayu mendarat tepat di punggung Rio. Rio
terjatuh dari motornya, ia berusaha meminta tolong namun suaranya tertahan
ditenggorokan karena rasa sakit yang dirasakannya, “Er...i...i...k” suara Rio
lirih, siswa PrimJay itu melanjutkan penyerangannya, ditendangnya perut Rio
berulang kali tanpa ampun. Ia menarik kerah baju Rio dengan kasar dan
menghantam wajah Rio berulang kali.
“RIOOOO!”
teriak Rizky dari kejauhan, “Rik, Rio diserang!” Rizky menambahkan dan segera
berlari ke tempat Rio berada, Erik dan Fadlan menyusul dari belakang. Rizky
mengambil sebuah paving block [6]
dari tumpukan paving block yang ditaruh di pinggir
jalan, kemudian
menghantam dengan keras ke pundak siswa PrimJay itu dan ia jatuh tersungkur
disebelah Rio, “Bangsat lo! Berani lo nyerang sahabat terbaik gue!” amarah Rizky
meledak-ledak, tapi cowok PrimJay itu tidak selemah yang dipikirkan Rizky, disikutnya
Rizky namun berhasil dihindari Rizky. Tak lama setelah itu, Fadlan dan Erik
datang, masing-masing dari mereka memegang sebuah paving block sebagai senjata. Erik menghantam tulang kering cowok
itu sehingga ia tak bisa bangun. Cowok itu tergeletak lemah di tanah, Fadlan
menahan kedua tangan cowok itu dan menghantam jari-jemarinya dengan paving block, Fadlan dan Erik memiliki
pemikiran yang sama ‘Serang alat geraknya agar tak bisa berkutik’.
Rio
mencoba untuk bangkit, disekanya darah yang keluar dari mulutnya, saat bangkit
berdiri dilihatnya beberapa pria berompi hijau stabilo di kejauhan, POLISI!
“POLISI!!
Ada polisi dateng!” teriak Rio pada teman-temannya.
“Cepet
kita cabut!!” kata Erik dan ia segera berlari ke arah motor Fadlan, begitu pun
dengan Fadlan. Baik itu siswa PrimJay maupun SMAN 5 semuanya lari tunggang
langgang menyelamatkan diri. Begitu pun dengan cowok yang tadi dihajar
habis-habisan oleh Erik, Rizky, dan Fadlan, padahal kaki dan tangannya sudah
dihantam paving block berulang kali
tapi ia tak peduli dengan rasa sakitnya, yang ada dipikiran mereka semua
sekarang adalah ‘Jangan sampai tertangkap polisi!’.
Sebagian
anak-anak SMAN 5 sudah kabur, tersisa Rio dan Rizky di TKP, Rio sudah berada
diatas motor Vixionnya, menaikkan standar, dan menyalakan motor, “Rizky!
Cepetan!” teriak Rio. Rizky masih mengambil tasnya yang berada tak jauh dari
tempat mereka berdiri, emang sih disaat kayak gini tas gak begitu penting dan kalo ditinggalin
gitu aja gak apa-apa, yang penting diri bisa selamat dari cengkeraman polisi,
tapiiii kalo tas kita isinya itu barang-barang elektronik seharga jutaan ya gak
bisa ditinggalin gitu aja dong. Dengan gesit Rizky mengambil tasnya yang berisi laptop dan segera
menaiki motor Vixionnya Rio, tapi belum sempat Rizky mendudukan pantatnya, Rio
keburu menancapkan gas, sialnya Rio salah memasukan perseneling sehingga ban
depan motor terangkat. Alhasil Rizky yang tak bisa menyeimbangkan tubuh
akhirnya terjatuh dari motor, Rio yang saat itu dalam kondisi gugup masih tetap
menahan gas motornya, motor pun terus melaju hingga ke tengah jalan, di saat
yang bersamaan sebuah mobil kijang melaju kencang dari arah belakang, “Rioo! Mob....” BRAAAAKKKK! Rizky
tak sempat memperingati Rio, mobil kijang berwarna biru tersebut terlanjur
menghantam motor yang dikendarai Rio, seketika tubuhnya terhempas ke bahu
jalan, sedangkan motornya
terus terseret ban mobil dan berhenti setelah sang sopir kijang mengerem tajam,
terdengar bunyi rem yang melengking kuat. Semua orang yang menyaksikan kejadian
mengerikan tersebut hanya terdiam, terkejut dengan apa yang dilihat barusan. Jalur
yang melewati gedung parlemen ada dua jalur, jalur yang berada tepat di depan
gedung parlemen adalah jalur lalu lintas kendaraan yang mengarah ke kiri gedung
disitulah kecelakaan terjadi, sedangkan jalur yang ada diseberangnya adalah
jalur lalu lintas kendaraan yang mengarah ke kanan gedung. Zaenal, salah
seorang siswa SMAN 5 yang ikut tawuran menyaksikan kecelakaan yang menimpa Rio
dari jalur jalan yang berada diseberang tersebut. Ia pun menghentikan motor dan berlari
ke arah tempat kecelakaan. Rizky yang masih tergeletak berusaha bangun dan
menolong Rio, kaki dan tangannya gemetaran, keringat sebesar biji jagung
mengalir deras dipelipisnya. Matanya hanya tertuju pada tubuh Rio yang berada
dibahu jalan, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
13.15 WITA
Tak
lama setelah kecelakaan tragis itu hujan pun turun, menambah suasana kelam di
sekitar tempat kejadian.
“Ri....o,
Riioo, Ri...!” dengan rasa gemetar yang kian hebat, Rizky berusaha menopang tubuh
Rio dengan mengangkat lehernya dan menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu berharap masih
bisa membuatnya sadar. Namun naas, Rio terluka parah, Rizky bahkan tak sanggup
melihat kondisi wajah Rio, hidung, telinga, mulut, dan kepalanya mengeluarkan
darah segar, rahang atas dan rahang bawahnya sudah tak beraturan, matanya merah
karena perdarahan dalam, mungkin karena terbentur aspal saat terhempas tadi. Rio terus membuka matanya dan menatap Rizky, ia
seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu pada Rizky tapi tak mampu
dilakukannya, Napas Rio terlihat hanya setengah-setengah, sesaat Rio menghela
napas panjang, “RIO!!” panggil Rizky, “Lo harus bertahan Ri!” teriak Rizky pada
Rio.
“Rizky...!”
ucap Zaenal saat mendekati Rizky, “Rio?? Gimana Rio??” suara Zaenal bergetar, ia juga syok dengan apa
yang dilihatnya dari seberang jalan tadi.
“Cepet
minta tolong polisi-polisi itu! Kita harus bawa Rio ke rumah sakit sekarang
juga, kalo gak dia bisa mati!” perintah Rizky. Zaenal segera pergi meminta bantuan. Rizky
melihat Zaenal yang berusaha meminta bantuan polisi dari kejauhan, terlihat
Zaenal sedang memohon pada polisi namun terlihat jelas respon polisi yang tidak
begitu menyenangkan, Zaenal malah balik dimarahi. Zaenal kembali ke tempat
Rizky sambil menggeleng lemah, “Bangsat!” rutuk Rizky. Dilihatnya lagi temannya
yang bersimbah darah, napas Rio mulai melemah, ‘Harus cepat!’ batinnya. Sepasang suami istri pemilik mobil kijang terlihat
ketakutan, si suami berusaha menenangkan istrinya yang sedang hamil tua, ‘Tapi
tidak mungkin membawa Rio memakai mobil kijang yang tadi menabraknya, mobil ini
juga rusak berat dan pasti mobil ini akan dijadikan barang bukti, Gue harus
gimana?? Ayo berpikirrr…” Rizky berpikir keras. Kemudian dibaringkannya
tubuh Rio perlahan, ia menyusuri keadaan sekelilingnya dan mengambil sebuah batu
yang ada dipinggir jalan.
‘Ini
emang ide gila…Ah sebodo amat!
Yang penting Rio selamet’ pikir Rizky sambil memandang batu yang dipegangnya. Sesaat
kemudian sebuah mobil pick up lewat
di depan mereka, Rizky memasang ancang-ancang untuk melempar, Wuuuss... dilemparnya
batu seukuran kepalan tangan itu ke arah kaca belakang mobil pick up, Bug! Mobil pun berhenti. Seorang pria setengah baya keluar dari mobil sambil
memaki-maki, Rizky dan Zaenal langsung membopong tubuh Rio dan menaruhnya di
bak belakang mobil pick up tanpa minta ijin terlebih dulu pada yang empunya
mobil. “Pak ayo jalan pak, temen saya kecelakaan, kondisinya parah banget, kita
harus bawa ke rumah sakit, saya mohon pak kali ini aja tolongin saya, ya pak
ya, ayo pak harus segera pak” pinta Rizky bertubi-tubi, yang empunya mobil yang
tadinya mau marah sekarang malah jadi gugup saat melihat Rizky yang bajunya
bersimbah darah, dilihatnya Rio yang sudah ada di atas pick up miliknya,
“ii..iya iya” dengan sigap ia melesat masuk ke kursi sopir dan menyalakan
mobilnya, Rizky menggedor-gedor jendela belakang mobil sambil mengatakan
‘Jalan! Jalan!’ . Mobil pun melesat kencang.
Setelah memastikan mobil pick up itu membawa Rio
bersama Zaenal, Rizky segera lari meninggalkan TKP tanpa diketahui oleh
polisi, ia tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan polisi-polisi itu toh
mereka pun tak membantu sedikit pun, ‘Dasar brengsek!’ makinya dalam hati. Yang
dilakukan Rizky hanya berlari dan berlari, tujuannya hanya satu, bertemu Erik
dan teman-teman yang lainnya! Setiap orang yang dilewatinya terheran-heran saat
melihat Rizky, baju pramuka yang tadinya berwarna coklat sekarang berubah warna
menjadi coklat kehitaman karena darah Rio. Ia tak peduli apa kata orang, ia
sudah tak tahu lagi harus bagaimana, Erik harus tahu apa yang terjadi tadi. ‘Di
saat-saat seperti ini kenapa pulsa gue habis sih?? Jadinya gue mesti
lari-larian gak jelas gini’ gerutu Rizky.
==0==
Sudah
hampir sepuluh menit Erik terus saja mondar-mandir tak jelas, sedangkan yang
lainnya hanya terduduk, wajah mereka kusut bukan main. “Arrrgggh! Mana sih si
Rizky??? Bikin gue khawatir aja” Erik mengerang, ternyata yang ditunggu-tunggu
adalah Rizky.
“Jangan-jangan, dia ama Rio ketangkep lagi…” kata Bayu
menduga-duga.
“Waduh
bisa berabe nih kalo mereka ketangkep, pasti kita semua bakalan ikut terseret” timpal
Elang, sambil mengacak-acak rambut spike-nya.
BUG! Erik melampiaskan stressnya dengan menghantam sebuah pohon beringin.
Dadanya naik turun, ia berusaha mengontrol emosi yang menguasai dirinya.
Teman-temannya hanya terdiam, mereka tak berani berkicau, kalau tidak hantaman
Erik akan mendarat kearah mereka.
Tiba-tiba
Rizky muncul dari gang yang berada disebelah kiri tempat mereka mangkal, ia
terengah-engah, keringat mengucur deras ditubuhnya. “Rizky!” Fadlan terlonjak
kaget saat melihat Rizky yang tiba-tiba muncul, saat mendengar nama ‘Rizky’
kepala Erik serasa meledak, ia tak mampu mengendalikan diri lagi, secepat kilat
ia mendekat kearah Rizky dan siap melayangkan kepalan tangannya ke wajah Rizky,
namun usahanya tertahan saat dilihatnya seragam Rizky yang bersimbah darah,
Rizky hanya menatap Erik dengan tatapan kosong.
“Siapa?”
Tanya erik dengan nada suara yang tertahan.
“Rio…”
semua tercekat mendengar jawaban Rizky.
==0==
15.00 WITA – Gedung parlemen
“Harusnya
tadi kita tetep nganter dia ke masjid, bukannya ngajak tawuran…” untuk kelima
kalinya Bayu mengatakan kalimat itu. Dan untuk kesekian kalinya keempat sahabat
ini menghela napas panjang. Penyesalan melanda pikiran mereka. Mereka menatap
tempat kecelakaan terjadi dengan wajah mendung. Ya, beberapa jam setelah
kejadian mereka kembali ke gedung parlemen tempat mereka tawuran tadi sekaligus
tempat kecelakaan tragis yang menimpa sahabat mereka. Polisi sudah tidak
terlihat lagi sejak setengah jam yang lalu, lalu lintas pun sudah lancar
seperti biasanya. Bau tanah tercium setelah hujan berhenti.
“Harusnya
tadi kita ….”
“Udahlah
Bay, jangan diomongin lagi…Ini bukan salah kita juga, mungkin ini emang udah
jalannya Rio” Elang memotong ucapan Bayu yang mencoba mengatakan kalimat yang
sama untuk keenam kalinya.
“Apa
dia selamet? Kenapa belum ada kabar juga dari Zaenal?” Tanya Erik.
“Be…”
Drrrt Drrrt Drrrt, belum sempat menjawab pertanyaan Erik Handphone Fadlan tiba-tiba
bergetar, cepat-cepat diambilnya handphone itu, “Telpon dari Zaenal!” ditekannya
tombol penerima panggilan, “Nal??? Gimana Rio??” Tanya Fadlan. Dari ujung
telpon tak terdengar suara Zaenal, “Nal! Jawab dong. Gimana Rio??” bentak
Fadlan. Elang, Bayu, Rizky, dan Erik bangkit berdiri dan memasang wajah
penasaran.
Sesaat
wajah Fadlan memucat, “Kenapa Fad?” Tanya Erik penasaran, Fadlan tak menjawab, “FAD!!!
Gimana Rio???” Erik mengguncang tubuh besar Fadlan.
==0==
Seminggu kemudian…
Usai pelajaran pertama
Rizky segera merapikan buku-bukunya dan segera pulang, ya sudah seminggu Rizky
seperti ini. Ia tidak mengikuti pelajaran kedua dan ketiga, setelah pelajaran
pertama selesai ia pasti langsung pulang. Ia juga sering datang terlambat
bahkan les tambahan yang diadakan sekolah untuk mempersiapkan Ujian Nasional pun
tidak sempat diikutinya. Ia berusaha menjauh dari orang-orang sekolah. Ia tidak
ingin di serang oleh berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan padanya
sehubungan dengan kematian Rio. Gosip beredar bahwa Rizky berada di tempat
kejadian saat itu dan hanya Rizky lah yang mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi, makanya begitu banyak orang yang tiba-tiba beralih profesi menjadi
wartawan dadakan dan mengincarnya untuk dimintai keterangan.
Erik, Bayu, dan Elang tidak
begitu banyak ditanyai tentang Rio, palingan mereka hanya ditanya ‘dimana
keberadaan Rizky?’, ‘kenapa dia gak ikut pelajaran dan les?’, dan masih banyak
serangkaian pertanyaan menyangkut Rizky, “Rizky udah kayak artis dadakan aja,
ditanyain mulu” kata Bayu suatu kali. Tapi jawaban yang mereka berikan hanya ‘Gak
tahu’, mereka juga malas membahas hal tersebut. Berurusan dengan teman-teman
sendiri saja malasnya bukan main, apalagi berurusan dengan para guru, alhasil
selama seminggu ini kelima sahabat ini menonaktifkan handphone mereka agar
tidak dapat diganggu. Mereka berlima sepakat untuk menutup mulut mereka
rapat-rapat mengenai Rio, mereka merahasiakan apa yang terjadi. Pertama kali
dalam hidup mereka menyembunyikan sebuah rahasia besar ini dari para teman,
guru, dan bahkan orang tua mereka. Hanya mereka berlima dan teman-teman
‘seperjuangan’ mereka yang tahu, entah sampai kapan mereka menyembunyikan
cerita sebenarnya, tak ada yang tahu.
==0==
Dua tahun kemudian…
7 Maret 2014
“Jadi selama dua tahun
lo ama temen-temen lo ngerahasiain kejadian itu dari semua orang???” tanya Puput.
“Iyaaa, mau temen kek,
guru kek, bahkan orang tua kita sekalipun gak ada yang tau kalo kecelakaan itu
berawal dari tawuran” jawab Rizky.
“Orang tua Rio pun sama
sekali gak tau???”
“Ya iyalah, kalo orang
tuanya sampai tahu, kita gak mungkin diijinin ikut penguburannya, pasti mereka
berpikir kalo kita penyebab kematiannya, yang ada kita malah diusir”
“Kok bisa mereka sampe
gak tau? Kan ada polisi yang urusin kejadian itu, emang polisi gak ngasih
informasi kejadiannya?”
“Enggak kok, mereka cuma
ngasi pernyataan kalo Rio itu meninggal murni karena kecelakaan, gak ada
hubungan sama sekali dengan tawuran.” Jelas Rizky.
“Kok bisa?”
“Ya iyalah bisa, itu
urusan kita ama para polisi, orang lain gak boleh tau! Udah ah banyak nanya deh”
“Yaelah, lo sendiri yang
cerita ke gue, gimana gue gak penasaran, seru banget cerita lo sih, cerita lagi
dong Ky”
“Udah ah, cukup segitu
aja lo taunya, gak boleh lebih, ini rahasia gue ama temen-temen gue semasa SMA. Cabut yuk, bentar lagi kuliah”
Rizky beranjak dari bangku tempat ia dan Puput duduk.
“Bentar lagi dehh, gue
masih pengen disini”
“Ahh males ah, kalo
lama-lama disini gue jadi inget lagi kejadian itu, biarpun udah lewat dua tahun
tapi gue masih trauma tau! Cabut yuk” Kata Rizky sambil melihat tempat kejadian
tragis itu dari Taman Kota yang berada di seberang gedung parlemen. Kemudian Rizky
menarik tangan pacarnya itu dan mereka berjalan mendekati motor Rizky yang
diparkir tak jauh dari bangku taman yang mereka duduki tadi.
Motor yang dikendarai
Rizky dan Puput melaju meninggalkan Taman Kota, “Put, kita singgah ke tempat
Rio dulu ya?” pinta Rizky dari balik helmnya.
“Emang mau ngapain?”
tanya Puput.
“Gue mau naruh buket
bunga, sekalian bakarin lilin.
Dia ulang tahun hari ini”
“Oke deh.” Rizky
membelokan motornya ke jalur menuju gedung parlemen. Ia menepikan motornya ke
sebuah tumpukan batu yang disusun rapi. Ada sisa-sisa lilin yang meleleh dan
bunga rampai di atas batu-batu tersebut, ‘Sepertinya Erik dan yang lain sudah
lebih dulu memberi ucapan pada Rio’ batin Rizky. Rizky dan Puput turun dari
motor, Rizky menaruh buket bunga lily yang dibelinya di atas tumpukan batu
tersebut. Dinyalakannya sebuah lilin dan membiarkannya terus menyala di atas
batu. “Happy birthday sahabat
terbaik…semoga tenang disana ya, kita semua disini kangen ama lo…Kangen lelucon
lo, kangen ketawa ngakak lo yang kayak kuda, kangen waktu lo pamerin otot
lengan lo yang sebenarnya gak berotot itu…Lo yang terbaik my brother” Rizky tertunduk, Puput yang melihat raut kesedihan di
wajah Rizky sambil menepuk pundak Rizky, berusaha menguatkan pacarnya tersebut,
“Udah tenang? Pamitan gih ama Rio, kita udah harus balik, bentar lagi kuliah”
katanya lembut sambil tersenyum. Rizky membalas senyuman manis Puput, diusapnya kepala Puput, “Oke sayang”. Rizky kembali memalingkan wajahnya
kearah tumpukan batu tadi, menyentuh tumpukan batu yang tersusun itu dengan
jari-jemarinya, “Gue balik ya Ri, sorry gue
gak bisa lama-lama, take care my brother Rio,
selamat beristirahat.” Sebelum beranjak dari tempat itu Rizky menyisipkan
secarik kertas kecil di tumpukan batu itu, ‘Pertemuan kita hanya bersifat
sementara tetapi perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya. Dan sahabat
adalah selamanya. You always be my best
friend Rio!’
TAMAT
[1]10 2 : Posisi dimana
[2]10 34 : Butuh bantuan
[3] Black cd
: penyerangan
[4] 69 : merapat
[5] 86 : siap/menuju
[6] beton
yang dipergunakan untuk mengeraskan permukaan tanah. Bentuknya ada yang berupa
balok atau pun segi enam. Paving block sering dipergunakan untuk mengeraskan
jalan, trotoar, halaman kantor atau rumah atau pun areal
parkir