KARYA TULIS
ILMIAH
PEMANFAATAN
SAMPAH ANORGANIK (GELAS AIR MINERAL) MENJADI SIMPLE POLIPROPILEN
DRESS
CANTIKA
P. R. J. PELLO
NUR RAIHANI
PASKALIA FEBRYANTI
POLTEKKES KEMENKES KUPANG
JURUSAN KEBIDANAN
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis
sehingga penulis berhasil menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis patut menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1.
Ibu Dewa Ayu Putu Mk, SST, M. Kes yang telah membimbing penulis dalam
pembuatan karya tulis ilmiah ini.
2.
Keluarga penulis yang telah memberikan dukungan dalam
pembuatan karya tulis ilmiah ini.
3.
Kak Fransiska Naur yang telah membantu memberikan ide
desain gaun.
4.
Kawan-kawan terkasih yang telah membantu, mendukung, dan
menemani penulis selama pembuatan KTI, Liyani
Wuyo, Ani Amin, Martha Leba, Kak Lita Araujo, Megi Boru, Ni Wayan Asty.
5.
Semua pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu, penulis hanya bisa berdoa semoga jasa dan
budi Bapak/Ibu, saidara/I sekalian mendapatkan pahala yang setimpal dari DIA
yang hidup dan menghidupkan.
Akhirnya dengan kerendahan hati dan dilandasi
dengan suatu kesadaran bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari harapan semua pihak yang
membutuhkan informasi seputar permasalahan ini, maka penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif. Semua ini penulis
harapkan demi penyempurnaan karya ilmiah ini dan demi masa depan pendidikan
yang lebih baik.
Kupang, April 2014
Penulis
ABSTRAKSI
Judul: PEMANFAATAN
SAMPAH ANORGANIK (GELAS AIR MINERAL) MENJADI SIMPLE POLIPROPILEN
DRESS
Abstraksi : Penelitian
ini bertujuan mengetahui Untuk mengetahui sejauh mana proses pengelolaan sampah
plastik yang dapat dilakukan di kampus Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang. Penelitan ini dilakukan di Kampus Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang
di Jl. R.A Kartini RT 018/RW 008 Kelurahan Kelapa Lima , Kecamatan Kelapa Lima.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4-16 April 2014. Dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan sampel sampah plastik
yaitu gelas kemasan air mineral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah
yang diolah jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan sampah yang dibakar
dan dibawa ke pengepul. Hal ini dibuktikan pada hasil perbandingan jumlah
rupiah yang didapatkan.. Sehingga terbukti bahwa produk yang dibuat dari hasil pengelolaan sampah gelas
kemasan air mineral menguntungkan.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Sampah adalah barang atau benda yang
dibuang karena tidak terpakai lagi (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sampah
adalah salah satu masalah besar yang banyak diperbincangkan oleh masyarakat
baik masyarakat awam maupun para pakar lingkungan.
Dalam bukunya, Juli Soemirat Slamet
menjelaskan sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-sifat biologis dan
kimianya, diantaranya (1) sampah yang dapat membusuk, seperti sisa makanan,
daun, sampah kebun, pertanian, dan lainnya; (2) sampah yang tidak membusuk,
seperti kertas, plastik, karet, gelas, logam, dan lainnya; (3) sampah berupa
debu/abu; (4) sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, seperti sampah-sampah
industri yang mengandung zat-zat kimia maupun fisis yang berbahaya.
Sampah yang tidak dapat membusuk disebut
juga sampah anorganik, dimana sampah anorganik dapat dijadikan sampah komersil
atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk yang lainnya. Beberapa
sampah anorganik yang dapat dibuat adalah plastik wadah pembungkus makanan,
botol, dan gelas bekas minuman. Fakta menunjukkan bahwa jumlah sampah di
Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan jumlah
populasi penduduk yang selalu bertambah setiap tahunnya. Selain itu kebutuhan
penduduk yang semakin meningkat seperti penggunaan bungkusan produk plastik
atau kaleng sehingga populasi sampah semakin berkembang.
Menurut program Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan bahwa volume
sampah dunia telah mencapai 1,3 miliar per tahun (Hijauku.com). Sedangkan di
Indonesia volume sampah yang muncul mencapai 38,5 juta per tahun. Dengan sampah
yang dominan adalah sampah dapur diikuti dengan sampah plastik sebanyak 14%.
Begitu pula permasalahan yang ada di
Kota Kupang, berdasarkan RKPD dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota
Kupang tahun 2014, tingkat pelayanan
persampahan di Kota Kupang secara umum belum optimal, karena kurangnya
kesadaran masyarakat tentang pemilahan sampah, kurangnya sarana angkutan
persampahan, pengolahan sampah pada TPA. Pada tahun 2010 volume sampah sebanyak
783,24 M3 dengan daya angkut rata-rata perhari 228 M3,
atau hanya 29,11 persen, sedangkan pada tahun 2011 volume sampah sebanyak1.098
M3, dimana yang terangkutke TPA Alak hanya 174 M3 atau
hanya 15,51 persen.
Dengan begitu banyaknya sampah di Indonesia,
hal yang paling sering dilakukan masyarakat adalah membakarnya. Pembakaran
sampah yang paling berbahaya adalah pembakaran sampah
plastik. Saat dibakar plastik-plastik
tersebut akan melepas gas-gas beracun. Semua gas tersebut berpotensi
menyebabkan kanker (Soemarwoto Otto, 2001)
Melalui sampling dan survei yang
dilakukan penulis terhadap intensitas sampah terbanyak yang terdapat di kampus
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang menunjukkan 4 dari 7 tempat sampah
merupakan sampah gelas air kemasan, intensitas sampah gelas air kemasan ini
menempati peringkat tertinggi kemudian disusul plastik pembungkus makanan (2
tempat sampah), kantong plastik dan
kertas (1 tempat sampah).
Dari data diatas menunjukkan bahwa
banyaknya sampah plastik yang diproduksi maka semakin tinggi pula risiko terjadinya kanker apabila sampah tersebut
dibakar. Oleh karena itu, perlu adanya pemanfaatan kembali atau daur ulang
sampah plastik khususnya sampah air kemasan yang dapat dijadikan produk layak
jual. Sehingga timbul kreativitas penulis untuk mengolah sampah gelas air
kemasan tersebut mengingat bahaya yang akan ditimbulkan apabila sampah tersebut
di timbun ataupun dibakar.
Oleh karena itu, pembuatan karya tulis
ilmiah ini penting untuk dapat memperoleh jalan keluar dalam permasalahan
pengelolaan sampah yang ada di kampus Jurusan Kebidanan. Sehingga, penulis
tertarik untuk mengambil judul “Pemanfaatan Sampah Anorganik (Gelas Air
mineral) Menjadi simple Polipropilen dress”, ini merupakan bukti nyata produk layak jual yang dapat dinikmati
manfaatnya oleh masyarakat.
1.2 Analisa
Situasi
Berdasarkan pengamatan
yang dilakukan di lokasi penelitian dan sudah dijelaskan dalam latar belakang
bahwa intensitas sampah terbanyak adalah sampah gelas air kemasan (4 dari 7
tempat sampah ), plastik pembungkus makanan (2 tempat sampah ), kantong plastik
dan kertas (1 tempat sampah). Dan pengolahan sampah yang dilakukan pihak kampus
adalah dengan cara dibakar.
1.3 Rumusan
masalah
Berdasarkan latar
belakang dan fakta yang terdapat dalam analisa situasi di atas, dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana
memanfaatkan sampah plastik (gelas kemasan air mineral) menjadi suatu produk
kreatif layak jual dengan nilai tinggi
dan layak guna di masyarakat?
1.4 Tujuan
1. Tujuan
Umum
Untuk mengetahui sejauh
mana proses pengelolaan sampah plastik yang dapat dilakukan di kampus Jurusan
Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang.
2. Tujuan
Khusus
·
Untuk mengetahui jenis
produk yang dapat dihasilkan dari pengelolaan sampah plastik.
·
Untuk mengetahui
pentingnya pengelolaan sampah plastik terutama gelas kemasan air mineral yang
ada di kampus kebidanan.
1.5 Manfaat Penelitian
1.
Bagi Penulis
Sebagai pengalaman langsung dalam
melakukan penulisan walaupun dalam tahap yang sangat sederhana dan dengan
keterbatasan yang dimiliki oleh penulis dan dapat menerapkan pengetahuan yang
diperoleh kepada masyarakat.
2. Bagi Mahasiswi
Dari hasil penelitian ini dapat
berguna bagi mahasiswi Jurusan Kebidanan dimana mereka bisa mengembangkan
kreatifitas dengan memanfaatkan barang-barang atau sampah yang ada di sekitar
kampus menjadi barang yang lebih berguna.
3. Bagi masyarakat
Hasil penulisan dan penelitian ini
dapat menjadi masukan bagi masyarakat dan dapat membantu masyarakat untuk lebih
teliti dan kreatif dalam memanfaatkan sampah sebagai produk yang layak
dikonsumsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengertian Sampah
Sampah ialah segala
sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat
(Soemirat Slamet, 1996:152). Sampah juga berarti benda atau barang yang dibuang karena tidak terpakai lagi seperti daun
kering, plastik, dan sebagainya (KBBI). Sedangkan FKM-UI mendefinisikan: sampah
ialah sesuatu bahan atau benda yang terjadi karena hubungan dengan aktifitas
manusia yang tidak dipakai lagi, tak disenangi dan dibuang dengan cara saniter,
kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia. Jenis sampah
yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berasal dari
rumah tangga, sampah industri, sampah dari pasar, sampah rumah sakit, sampah
pertanian, perkebunan dan peternakan serta sampah dari institusi/kantor/sekolah
dll.
2.2Pengelompokkan Sampah
Menurut
Juli Soemirat Slamet sampah di bagi menjadi empat berdasarkan sifat-sifat
biologis dan kimianya diantaranya
2.2.1
Sampah Yang Membusuk
Sampah ini dalam bahasa Inggris gerbage, yaitu yang mudah membusuk
karena aktivitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan antara
lain, gas metan, gas H2S yang bersifat racun bagi tubuh. Selain
beracun, H2S juga berbau busuk sehingga secara estetis tidak dapat
diterima. Jadi, penumpukan sampah yang membusuk tidak dapat dibenarkan.
2.2.2
Sampah Yang Berbentuk Debu Atau Abu
Sampah jenis ini berbentuk debu atau abu
hasil pembakaran, baik pembakaran bahan bakar ataupun sampah. Samaph seperti
ini tidak membusuk, tetapi dapat dimanfaatkan untuk mendatarkan tanah atau penimbunan.
2.2.3
Sampah Berbahaya
Yang dimaksud dengan sampah berbahaya atau
B3 adalah sampah yang karena jumlahnya, atau konsentrasinya, atau karena sifat
kimiawi, fisika, dan mikrobiologinya (a) meningkatkan mortalitas dan morbiditas
secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang tidak reversible ataupun sakit
berat yang pulih atau reversible (b) berpotensi menimbulkan bahaya sekarang
maupun masa yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak
diolah, ditranspor, disimpan, dan dibuang dengan baik.
2.2.4
Sampah yang Tidak Membusuk
Sampah jenis ini dalam bahasa Inggris
disebut refuse, biasanya terdiri dari kertas-kertas, plastik, logam, gelas, karet, dan lainnya
yang tidak dapat membusuk atau sulit membusuk. Sampah ini apabila memungkinkan
sebaiknya didaur ulang sehingga dapat bermanfaat kembali baik melalui suatu
proses atau secara langsung. Apabila tidak dapat didaur ulang maka diperlukan
proses untuk memusnahkannya, seperti pembakaran.
Sampah
plastik merupakan sampah yang berasal dari bahan plastik yang dapat didaur
ulang. Contoh sampah plastik itu seperti bungkus makanan ringan, bungkus
detergen, botol air mineral, gelas air mineral, dan lain-lain.
Untuk gelas kemasan air mineral itu sendiri terbuat dari jenis plastik PP (Polipropilen) atau yang biasa
disimbolkan dengan angka 5 yang merupakan jenis terbaik yang bisa dimanfaatkan
sebagai kemasan makanan/minuman. Plastik jenis ini lentur namun kuat, mampu
mencegah reaksi kimiawi serta tahan minyak dan panas (uniqpost.com). Hampir setiap orang pasti tidak akan terlepas
dari yang namanya bahan plastik dalam aktivitasnya sehari-hari. Hal ini
dikarenakan sifat-sifat bahan plastik yang membuatnya sulit tergantikan dengan
bahan lainnya untuk berbagai aplikasi khususnya dalam kehidupan sehari-hari
mulai dari kemasan makanan, alat-alat rumah tangga, mainan anak, elektronik
sampai dengan komponen otomotif. Oleh karena penggunaan bahan plastik lebih
banyak dipakai oleh masyarakat tidak heran sampah plastik yang dihasilkan pun
jumlahnya banyak. (tambah bahan baku pembuatan gelas plastik)
2.3Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan
dan Lingkungan
Bahaya yang dapat ditimbulkan
dari adanya sampah plastik diantaranya
pencemaran lingkungan.
2.3.1
Pencemaran tanah
Sampah padat yang bertumpuk banyak tidak
dapat teruraikan oleh makhluk pengurai dalam waktu lama akan mencemarkan tanah
(A. Tresna Sastrawijaya, 2000:73).
Apabila sampah plastik ditimbun dalam kurun waktu yang lama dapat mengganggu
proses penyerapan air oleh akar tumbuhan sehingga memperlambat laju pertumbuhan
tanaman. Selain itu, sampah plastik yang dibiarkan begitu saja dapat menjadi
sarang nyamuk apabila tergenang air.
Efek tidak langsung lainnya
berupapenyakit bawaan vektor yang berkembang biak di dalam sampah. Sampah bila
ditimbun sembarangan dapat dipakai sarangan lalat dan tikus. Seperti kita
ketahui, lalat adalah vektor berbagai penyakit perut. Demikian juga halnya
dengan tikus, selain merusak harta benda masyarakat, tikus juga sering membawa
pinjal yang dapat menyebabkan penyakit Pest (Juli Soemirat Slamet, 1996:155).
2.3.2
Pencemaran Udara
Menurut
Arim C. Setya dalam Karya Ilmiahnya dijelaskan bahwa pembakaran
plastik menghasilkan salah
satu bahan paling
berbahaya di dunia, yaitu
Dioksin. Dioksin adalah
salah satu dari
sedikit bahan kimia
yang telah diteliti
secara intensif dan
telah dipastikan menimbulkan
Kanker. Bahaya dioksin
sering disejajarkan dengan DDT,
yang sekarang telah
dilarang di seluruh
dunia. Selain dioksin,
abu hasil pembakaran
juga berisi berbagai
logam berat yang
terkandung di dalam
plastik.
2.3.3
Pencemaran Air
Sampah plastik apabila dibuang pada
saluran-saluran air dapat menyebabkan penyumbatan sehingga terjadi banjir.
2.4 Pengelolaan Sampah
Dalam
pengelolaan sampah plastik, penulis menerapkan sistem 3R. Alamendah menjelaskan 3R
yaitu ; Reuse, Reduce dan Recycle. Reuse berarti
menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama
ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu
yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali
(daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat ()
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
dilakukan pada
Hari/tanggal : 4-16
April 2014
Tempat : Jl. R.A Kartini RT 018/RW 008
Kelurahan Kelapa Lima , Kecamatan Kelapa Lima.
3.2
Populasi dan Sampel
Populasi :
Populasi dalam penelitian ini adalah berbagai jenis sampah yang ada di Kampus
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang Jl. R.A Kartini RT 018/RW 008
Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima.
Sampel :Sampel
dari penelitian ini adalah sampah plastik
yaitu gelas kemasan air mineral.
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain;
gunting, jarum, pensil, mistar, pisau/cutter,
pita meter, mesin jahit, sampah gelas kemasan air mineral, sampah botol
minuman bersoda, air, sabun cuci piring, pewarna ( pilox ), kain kordi warna
coklat keemasan dan putih, resleting, dan benang.
3.3.2
Langkah-langkah Penelitian
Prosedur penelitian menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut.
·
Penggambaran desain
gaun yang akan dibuat
·
Pemilihan gelas kemasan
air mineral di tempat sampah kampus dan sekitar kampus
·
Pengupasan bagian
penutup gelas
·
Pembersihan gelas
kemasan air mineral dan botol kemasan minuman bersoda menggunakan sabun cuci
piring dan dibilas dengan air bersih
·
Penjemuran gelas
kemasan air mineral dan botol kemasan minuman bersoda di bawah terik matahari
·
Pengguntingan bagian
atas gelas air mineral
·
Pengguntingan gelas air
mineral menjadi dua bagian sama besar
·
Pengguntingan bagian
dasar botol minuman bersoda hingga berbentuk bunga
·
Pewarnaan gelas air
mineral dan dasar botol yang sudah digunting menggunakan pilox berwarna merah,
kemudian diangin-anginkan selama ± 5 menit
·
Pengukuran baju pada
tubuh model
·
Penggutingan pola
berdasarkan ukuran tubuh model kemudian mulai proses penjahitan
·
Setelah gaun selesai
dijahit dilanjutkan dengan proses pembuatan rok menggunakan gelas kemasan air
mineral yang sudah diwarnai
·
Proses pembuatan rok
dilakukan dengan cara menjahit gelas kemasan air mineral
·
Setelah pembuatan gaun
selesai dilanjutkan dengan menempelkan dasar minuman bersoda sebagai bros pada
bagian dada kiri atas
·
Gaun siap digunakan
3.4 Definisi
Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
|
|
Definisi
Operasional
|
Kategori
|
|
Sampah
Plastik
|
Sampah
yang berasal dari bahan plastik PP (Polipropilen)
atau yang biasa disimbolkan dengan angka 5 yang merupakan jenis terbaik yang
bisa dimanfaatkan sebagai kemasan makanan/minuman. Plastik jenis ini lentur
namun kuat, mampu mencegah reaksi kimiawi serta tahan minyak dan panas
|
Utuh
dan Bagian dasarnya berbentuk bulat
|
|
Produk
(Gaun dari sampah kemasan gelas air mineral)
|
Gaun
berbahan dasar kain kordi yang dipadukan dengan gelas kemasan air mineral di
bagian bawah gaun.
|
Baik
|
3.5 Evaluasi
Dari hasil pengerjaan yang
peneliti lakukan, pengelolaan sampah (gelas air
kemasan) yang dilakukan dengan sistem 3R yaitu reuse, reduce, dan recycle
dapat menghasilkan produk yang layak jual seperti simple polipropilen dress, yaitu gaun berbahan dasar kain kordi
yang dipadukan dengan gelas kemasan air mineral. Gaun ini dapat dipasarkan dan menarik
perhatian masyarakat sebagai konsumen karena gaun ini memiliki beberapa
keunggulan diantaranya unik, bermode, bahan mudah didapat, sederhana, dan
memiliki nilai jual tinggi.
3.6 Perincian Dana
Rencana biaya penelitian yang
diperlukan sepenuhnya ditanggung oleh peneliti dengan rincian sebagai berikut:
Ø Kain kordi warna keemasan : Rp. 25.000
Ø Kain kordi warna putih : Rp. 20.000
Ø Biaya penjahitan : Rp. 100.000
Ø Pilox (pewarna) : Rp. 40.000
Ø Benang dan Jarum : Rp. 3.500
Total : Rp. 188.500
3.7 Tim Peneliti
1. Pembina : Dewa Ayu Putu MK, SST, M. Kes
2. Pelaksana: - Cantika P.R.J Pello
- Nur Raihani
- Paskalia Febriyanti
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil
penelitian ini dapat dilihat dengan membandingkan pendapatan yang diperoleh
jika sampah gelas kemasan air mineral dibakar, dibawa ke pengepul, dan diolah
menjadi produk layak jual. Dari penelitian tersebut peneliti memperoleh hasil
sebagai berikut.
Tabel 4.1 Perbandingan Keuntungan
|
Tindakan
|
Jumlah
Kemasan Yang Diperlukan
|
Pendapatan
|
|
Dibakar
|
0
- ∞
|
Rp
0,-
|
|
Dibawa
ke pengepul
|
200-300
kemasan ( ± 1 kilogram)
|
Rp
7000,-
|
|
Diolah
menjadi produk layak jual (simple polipropilen
dress)
|
130-140
kemasan
|
Rp
61.000,- sampai Rp 161.000,-
|
4.2 Pembahasan
Dari data perbandingan di atas,
penulis dapat menganalisis bahwa sampah yang diolah jauh lebih menguntungkan
dibandingkan dengan sampah yang dibakar dan dibawa ke pengepul. Hal ini
dibuktikan pada hasil perbandingan jumlah rupiah yang didapatkan.
Rupiah yang didapatkan jika
dibakar adalah Rp 0,- hal ini dikarenakan sampah yang dibakar akan musnah dan
menjadi tidak berguna, bahkan dapat menimbulkan efek yang tidak baik bagi
kesehatan.
Rupiah yang didapatkan jika sampah dibawa ke
pengepul adalah Rp 7000,-. Ini didapatkan dengan perhitungan sebagai berikut :
1 kg sampah kemasan gelas air mineral =
200-300 gelas
1 kg sampah kemasan gelas air mineral =
Rp 7000,-
Rupiah yang didapatkan jika
sampah diolah menjadi produk layak jual seperti simple HDPE dress adalah Rp 250.000,- sampai Rp 300.000,-.
Ini didapatkan dengan perhitungan sebagai berikut:
Modal awal :
Ø Kain kordi warna keemasan : Rp. 25.000
Ø Kain kordi warna putih : Rp. 20.000
Ø Biaya penjahitan : Rp. 100.000
Ø Pilox (pewarna) : Rp. 40.000
Ø Benang dan Jarum : Rp. 3.500
Total : Rp. 188.500
Dari modal tersebut peneliti
dapat menjual simple HDPE dress
dengan kisaran harga Rp 250.000,- sampai Rp 300.000,-. Sehingga keuntungan yang
diperoleh sebesar Rp 61.000 sampai Rp 161.000, lebih besar jika dibawa ke
pengepul. Keuntungan akan lebih besar diperoleh apabila biaya penjahitan tidak
ada atau dijahit oleh masyarakat.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Simpulan
Sampah gelas kemasan air mineral yang terdiri dari unsur polipropilen dapat diolah menjadi produk
yang bernilai ekonomis seperti simple
polipropilen dress dan dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan
pengolahan dalam rangka mengurangi populasi sampah plastik yang ada di sekitar
kampus Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang, serta produk yang dihasilkan
dengan mengolah sampah ini memiliki nilai ekonomis. Hal ini dapat di lihat
dengan produk yang dihasilkan ketika mengolah sampah gelas air kemasan menjadi
gaun.
5.2 Saran
Saran
yang dapat disampaikan untuk penelitian
ini adalah :
1. Masyarakat
dapat menggunakan penelitian ini sebagai alat dan cara untuk dapat mengurangi
populasi sampah serta memanfaatkan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal
menjadi produk layak guna.
2. Para
peneliti dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai bahan dan
acuan dalam melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana mengolah
sampah plastik (gelas kemasan air mineral) menjadi produk layak jual dan layak
guna.
DAFTAR
PUSTAKA
RKPD Kota Kupang. 2014. Badan Perencanaan pembangunan Daerah
Sastrawijaya, A. Tresna.
2000. Pencemaran Lingkungan. Jakarta:
Rineka Citra
Slamet, Juli Soemirat. 1996.
Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Soemarwoto, Otto. 2001. Ekologi,
Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
Alamendah. 2010.
3R (Reuse
Reduce Recycle) Sampah.
http://alamendah.wordpress.com/2010/07/01/3r-reuse-reduce-recycle-sampah/Diakses
pada tanggal 7 April 2014
Badriyah, Umi. 2013. Usaha Daur Ulang Sampah Plastik. http://umibadriyah.blogspot.com/2012/12/usaha-daur-ulang-sampah-plastik-yang.html diakses pada tanggal 07 april 2014
Setya, C. Arim.2012.
KaryaIlmiah Remaja Tentang Sampah di Indonesia. http://arimcsetyavengeance.blogspot.com/.
Diakses 7 April 2014
Uniqpost.
2012.http://uniqspot.com/33990/mengenal-simbol-kode-jenis-plastik-dan-bahayanya/. Diakses pada tanggal
7 April 2014
Lampiran
Gambar tahap
pewarnaan gelas air mineral
Gambar Penjahitan
Gelas yang telah di warnai
Gambar Simple Polipropilen Dress (tampak depan)
Gambar
Simple Polipropilen Dress (tampak belakang)



