Sabtu, 14 Mei 2016

Moringa Fighter's Story



Moringa Fighter’s Story
Ini adalah kisah kami, 3 mahasiswi Poltekkes Kemenkes Kupang (Agnes Vivi Lestary-Farmasi, Cantika Pello-Kebidanan, Nur Raihani-Kebidanan) yang berusaha menyelesaikan sebuah misi yang kami namakan misi "36 Hari Menuju MARSS 2016", dimana dalam waktu 36 hari kami harus menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah untuk dilombakan di ajang MARSS (MIPA Road to Scientific Paper and Seminar) yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta, sebuah ajang yang menggugah hati kami untuk bersaing melawan seluruh universitas yang ada di Indonesia dan berusaha mengharumkan nama Poltekkes Kemenkes Kupang. Kami menyebut diri kami dengan sebutan "Moringa Fighter" a.k.a Pejuang Moringa, Moringa diambil dari nama Latin daun kelor, jadi jika diterjemahkan lebih sederhana artinya Pejuang Kelor. Disini kami bereksperimen untuk membuat suatu produk makanan dari daun kelor yang memiliki kandungan Fe atau zat besi untuk mencegah anemia, produk ini kami namakan "MoKoe Mie" atau MOringa KOEpang Mie. Mau tau bagaimana kisah kami?? Let's Read It!

23 Februari 2016
Berawal dari.....
Sosial media bernama “FACEBOOK”!!!

25 Februari 2016
Pertemuan pertama!
Wah, excited buat salah satu dari kami si Agnes yang sudah mengajak mengikuti lomba ini. Dan yang diajak (Chika dan Nur) ternyata punya semangat sama dengan Agnes untuk mengikuti lomba ini. Nekat mengikuti lomba... ternyata kami punya pemikiran yang sama, “kurang kerja” mungkin itulah istilah yang tepat untuk kami, mengapa dibilang begitu? Karena keputusan kami untuk mengikuti lomba ini terbilang beresiko besar. Mari ta’ jelasin lebih detail. Saat ini kami sudah menapaki masa sebagai mahasiswi tingkat III di Poltekkes Kemenkes Kupang dan saat ini kami sedang sibuk-sibuknya untuk mengurusi dinas, menyusun proposal, ujian praktik, PKL de el el yang kalau mau dibilang bisa bikin kepala pecah. Tapi, gilanya kami adalah kami berani mengambil risiko untuk membagi waktu, pikiran, dan tenaga kami untuk membuat karya ilmiah untuk lomba yang diselenggarakan oleh UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam pertemuan pertama ini, masing-masing dari kami mengemukakan alasan utama mengapa kami mau mengikuti lomba ini. Dan jawaban yang dilontarkan adalah ....
1.      Ingin memiliki pengalaman bersaing di tingkat nasional
2.      Ingin menemukan hal baru
3.      Ingin mengetahui sejauh mana limit kami
4.      Ingin mempersembahkan ‘sesuatu’ yang membanggakan bagi calon almamater dalam hal ini Poltekkes Kemenkes Kupang
            Jadi, perlu ditekankan disini ya, alasan kami mengikuti lomba ini sama sekali bukan karena uang atau ketenaran ataupun merasa yang paling hebat. Tapi disini kami ingin belajar, kita semua tau kan belajar itu ada banyak caranya, dan salah satunya ini nih!
OK FIX! Setelah ‘acara pembukaan’, kami langsung menyusun gambaran kasar dari karya ilmiah yang akan kami buat, dan....JENGJENGJENG! Kami memutuskan untuk mengambil sub tema kesehatan yang tidak jauh dari bidang kami (jelas lah).
Nah, sketsa rencana awal kami itu begini:
BUMIL - Anemia - tingkatkan kadar Hb - bahan makanan yang bisa membantu meningkatkan kadar Hb - olah bahan tersebut menjadi sebuah produk - bisa bersaing di era MEA !!! Uwauuuw ide brilian!!! Ting ting (^.~)
Eitss tunggu dulu, ini belum berakhir!!! Ternyata dari beberapa hari pertemuan kami, begitu banyak ide yang muncul dari balik tengkorak kami, mulai dari membuat produk suplemen, membuat sosis (rencananya dari kacang hijau), membuat es krim, PMT untuk bumil, sereal, de el el, dan de el el (pokok e mbuaanyak lah). Mengkhayalnya banyak pake banget.
Pemikiran kami pun berkembang lagi dengan berencana untuk bekerja sama dengan jurusan lain diantaranya gizi, farmasi, dan analis. Gila gak tuh??? Keren kan?? Jadi gini nih, di gizi kami membutuhkan laboratorium beserta alat-alat masak mereka untuk membuat produk, di farmasi kami membutuhkan laboratorium dan alat untuk pengujian makanan, dan di analis kami membutuhkan tenaga-tenaga analis untuk mengukur kadar Hb ibu hamil... jauh banget tuh pemikiran kami...sooooo faaaaarrr, yeeeaaahhh! Wahh, kerenn deh pokoknya.
Ternyata eh ternyata, ada beberapa hal yang tidak bisa kami lakukan alias belum bisa menjadi kewenangan kami. Finally, kami memutuskan untuk membuat produk dari daun kelor yang notabene adalah tanaman berkhasiat ajaib yang banyak terdapat di daratan Timor! The Miracle Tree! Dengan dibantu oleh ibu Priska E. Tenda., SF.,Apt.,Msc dosen Farmasi, kami bertiga berjuang untuk membuat karya tulis dalam waktu 36 HARI!!! Sejak pertemuan pertama itu, kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan menyusun karya tulis kami, sampai kemalaman pula!! Tak mau ketinggalan hotspot “orang bahagia” always on broooo.

@ Ruang Kelas Jurusan Kebidanan

12 Maret 2016
Yang namanya mau menapaki kesuksesan yaa yang pasti akan ada banyak rintangannya bro. Super_Duper_Banyak_Banget tantangan yang kami hadapi, mulai dari mencari kebun kelor, tepung kelor, laboratorium untuk pengujian makanan (LABKES, Lab FKIP undana, BLHD), dan tempat untuk proses pembuatan mie. Pernah juga nih, kita bisa sampai mesti nyari ekstruder (alat untuk membuat sereal) ke Poli tani dan FAPERTA. Waktu itu masih belum ada kepastian mau buat mie atau sereal.
Ini nih potret perjalanan kami mencari kebun kelor di Desa Sokon Fatukoa.
@On The Way to Desa Sokon
Begitu jauhnya perjalanan membuat kami lelah, namun sesampainya di kebun kelor milik wirasakti ini, pecah deh rasa cape kami...
@Kebun Kelor Wirasakti, Desa Sokon
Sesampainya disana kami bertemu dengan Pak Karim, beliau adalah salah satu tentara yang mengelola kebun kelor di desa Sokon. Disana, kami juga bertemu dengan pasangan suami istri, Pak Sigit dan Ibu Yun. Cerita punya cerita nih, Bu Yun juga memiliki kebun kelor di daerah Raknamo, dan beliau berencana untuk membuat sebuah rumah makan di Raknamo (mungkin di dekat kebun kelornya itu) yang menyediakan berbagai hal berbau kelor, baik itu makanan maupun minuman. Wah gila deh pokoknya cerita ama si beliau yang super active ini.   
 Pak Sigit dan Bu Yun
Saat bertemu dengan Pak Karim dan menceritakan alasan kedatangan kami. Kami diberi banyak informasi mengenai tanaman kelor, wah takjub deh sama tanaman ajaib ini, keren deh pokoknya, kami juga ditawari oleh Pak Karim untuk mempertunjukkan produk kami di pameran nanti (Boleh lah Pak). Sayangnya waktu sudah tidak memungkinkan (waktu itu sekitar pukul 18.00 WITA) maka kami pun sepakat untuk melakukan panenan esok harinya...Semangat deh pokoknya untuk panenannya. Fighting buat Moringa Fighter!!!

13 Maret 2016
HARVESTMOON!!!
            Semangat banget nih buat panen, tapi sebelum panen narsis dulu di penangkaran Rusa (kami baru tahu kalo penangkaran rusa ternyata ada juga di NTT) (^^) hehehe.
@Penangkaran Rusa
Dalam perjalanan kami kali ini, kami membawa serta Milin teman kami dari farmasi. Yah daripada nganggur di asrama, mending ikutan panen kelor kan ? hehehe.
Milin diboncengi Agnes
Sesampainya di Surga Kelor...uyeeeaahh! Lebay! Aduh lupa, ada satu tempat di kebun kelor itu yang kuueereeen banget. Ini nih, semacam kolam ikan kecil yang super duper keren (versi kita)...
@Kolam ikan yang super_duper_keren

Sebelum panen, kumpul energi dulu dengan masakan Jagung Rebus broo, lauknya pake daun kelor aja biar lebih menjiwai katanya (eeh???)
Masakan Jagung Rebus Ala Desa Sokon


Panen sampe bengkok gengz :D :D
@Lagi panen kelor nih ceritanya

Panen gak butuh banyak waktu brooo, dalam waktu sejam kami bisa mendapatkan 5 bakul besar penuh dengan daun kelor...Tapi setelah memanen ada tugas berat yang harus kami kerjain, yaitu menyerut daun kelor dari batangnya, gilaaaaaa, udah banyak begitu, mesti  diserut satu-satu lagi!...Dan bukan hanya itu, dalam proses penyerutan kita harus berlomba dengan waktu, karena kata Pak Karim setelah kelor dipotong dari pohonnya, harus sudah dibawa ke tempat pengeringan dalam waktu kurang dari 4 jam... Dari jam 4 sore kami seruuuuuuttt semua daunnya, dan kerjaan kita kelar pada pukul 7 malam. Dan hasil timbangan menunjukkan hasil panenan kami sebanyak 18,9 kg daun kelor basah. UWAAUUUUWWW!!! (O.O)
Proses penyerutan daun kelor
Setelah proses penyerutan, buru-buru kami langsung ke tempat pengeringan yang kata Pak Karim jauhnya ±14 km dari kebun kelor, gilaaa!! Ya udah cepet-cepet kami go to Pesantren Nurhidayah Tullah Batakte tempat proses pengeringan dilakukan.

 Proses pengeringan di ruangan bersuhu 30-35 ͦ C

Tempat pengeringan ini khusus dibuat untuk pengeringan daun kelor, ruangannya tertutup dengan penyinaran sinar lampu (6 buah lampu sorot) sehingga suhu ruangan berkisar antara 30-35 ͦ C gak boleh lebih gak boleh kurang. Kami aja yang mau masuk harus ikat rambut, pake masker, pake handscoon, buka sepatu. Keren nggak tuh?
Bersama anak-anak pesantren Nurhidayah
Nah ada juga nih cerita lucu dan sedih yang kami alami, malam-malam pas lagi sibuk-sibuknya nyari kosnya ibu Priska..Eh tau-tau, Bruuuggg!! Wwah, jatuh motor dah saya ama si Agnes. Gilaaaa, Lumpur lapindo kalah brooo, tebalnya lumpur basah membuat motor kami tergelincir berantakan brooo...parah deh pokoknya.

Sabtu, 19 Maret 2016
Penggilingan Kelor!
Pagi-pagi jam 8 ke gereja Maranatha (hanya sebagai tempat singgah) untuk nungguin si Nur, rencananya hari ini kami mau menggiling daun kelor yang sudah kering. Sama Pak Karimnya disuruh tunggu di depan gereja karena rumahnya dekat situ. Yang ditunggu tidak datang-datang, yo wes langsung saja ke rumahnya. Di telpon di kasitau “nanti dari gereja naik ke atas, belok kanan-belok kiri-rumah ke 5 pagar hijau” (dengan logat Bimanya), Okeh, let’s go, Tapi yang dicari-cari tidak ada. Pas ditelpon lagi, kata beliau setelah dari gereja naik ke atas trus belok kiri??? Hehh??? Ya sudah, cari lagi dah kami berdua. Trus lihat ada seorang bapak berbaju loreng, tanyalah kami ke dia. Seram amat mukanya, tapi suaranya tidak seseram mukanya. Cari cari cari dapat deh, dari situ pak Karim menemani kami ke Pesantren untuk menggiling kelor....
Sesampainya di pesantren...
Chika dan Nur beserta anak-anak pesantren mengumpulkan daun kelor yang sudah kering (3 hari 3 malam di keringkan dalam ruangan bersuhu 30-35 derajat celcius).

Wauw lumayan bannyak ya hasilnya...

Terus melalui alat penggilingan kami belajar bagaimana cara mengubah daun kelor menjadi tepung kelor. Uwaaaa kereeennnn. Hari ini Agnes nggak ikut karena ada urusan di kampusnya (makanya kita bilang misi kita ini benar-benar beresiko dalam artian kami berjuang melawan zona nyaman kami).

 Penggilingan daun kelor

Nah ini dia moringa flour/tepung kelor :D Pecaaaahhhh!!!
 Setelah ditimbang ternyata beratnya 4 kg loh!

Thanks ya buat anak-anak pesantren Batakte 

23 Maret 2016
Hari yang ditunggu-tunggu!!!
Di tengah kesibukan kami yang lagi sibuk-sibuknya konsul proposal dan persiapan PKL, kami masih mampu menyisipkan pekerjaan “kurang kerjaan” kami yaitu MEMBUAT MIE KELOOOOORR.. yeaaahh Amazing brai dan bersyukur karena kami menjalaninya dengan semangat pantang menyerah, tentunya bagi kami ini adalah pekerjaan yang menyenangkan!!!
Hari ini adalah hari fakultatif di kampus, gak ada aktivitas kampus tapi para dosen masih ada yang datang ... yah, namanya mahasiswa yaa, di saat gak libur malah hilang, di saat libur malah nongol hohoho. Sama nih, si Chika dan si Nur juga, di saat fakultatif begini teman-teman pada sibuk nyari dosen untuk tanda tangan proposal, ada yang konsul, tapi si Chika dan si Nur menyibukkan diri untuk berkutat dengan tepung, garam, timbang-timbang bahan, membuat adonan, yah pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan proses pembuatan mie kelor. Pagi-pagi kami berdua udah ngumpul tuh di laboratorium teknologi pangan di Jurusan Gizi, bertemu Pak Max salah satu dosen gizi yang kami percayakan untuk menemani kami mengolah mie kelor. Tapi naasnya alat pemotong mienya rusak. Ya udah, sambil nunggu alatnya diperbaiki, kami cao untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan mie.
Tepung kelornya kami ambil di kosnya Nur, tepung terigunya kami beli di kios dekat kosnya Nur, CMCnya kami beli di RJ salah satu toko swalayan di Kota Kupang. Sejenak ketika kami sampai di laboratorium kami pun iseng memotret sisa-sisa rupiah di dompet kami, alamaaakk banyak kali ini. 
Sesampainya di laboratorium, “Aduh adik, ini pemotong su sonde bisa lai, besong pake pisau sa untuk potong dia pung mie, atau pake cutter ko” kata Pak Max saat kami tiba. Oalah pak, pake pisau? Kapan habisnya kalo kami pake pisau???
Biasalah, untuk mencapai kesuksesan itu pasti jalannya gak mulus, ya ada lembahnya, ya ada gunungnya. Pertama, alat pemotong mie rusak. Kedua, ada 3 bahan yang gak kami dapetin (Na2CO3, K2CO3, STPP). Ketiga, resep yang kami ikutin gak menghasilkan mie yang bagus brooooo. Terus Pak Max bilang gini “Sudah besong buat su sendiri, buat sampe jadi ee, kalo sonde na tanya di Ibu Indira dia pung perbandingan”. 
@Di Laboratorium Teknologi Pangan Jurusan Gizi Bersama Pak Max (dibelakang komputer)
Catet nih!!! Chika dan Nur adalah dua mahasiswi kebidanan, KE-BI-DA_NAN. Sama sekali tidak ada basic gizi-gizian gitu, wajar jugalah hasil adonan kami gak karuan, alhasil kami mesti berkonsultasi ke ahlinya, IBU INDIRA! Yeaahh!
Okeh, dari hasil konsultasi dengan ibu Indira, kami pun mulai mencoba-coba resep sendiri, berusaha mengukur, menimbang, dan menerka-nerka perbandingan antara tepung kelor dan tepung terigu yang PAS untuk menjadi khalis. Yuhuuuu inilah hasil adonan kami..Bagaimana menurut kalian??? Menurut kami ini nampak seperti sebongkah tai kering uueekk :p hahahahaha (bercanda).
@adonan apa ini???? Mie kelor broooo
Ketika menjelang maghrib, kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan hari ini untuk dilanjutkan besok. “Aduhhh, kalian besok praktik sendiri sa ee, saya mau ke Atambua, jadi tidak bisa temani” kata Pak Max. Oke sip pak!!!
Sebelum kami pulang, si Agnes datang...Nur dan Chika mulai menceritakan kendala-kendala yang tadi didapatkan. Lalu kami bertiga mulai membuat rencana untuk besok dan mulai menghitung perbandingan yang sekiranya pas untuk adonan sebuah Mi, Bertigaan  sampe malem di luar lab!!! Di tangga pula!!! Horor broo!!!
Ini nih salah satu hasil diskusi kami mengenai itung-itungan

24 Maret 2016
            Sesampainya di labà buka lab tekpan dan pengolahan makananàsiapkan alat dan bahan (sok-sok bangeeett kayak lab sendiri)àmulai mengolah bahanàditengah pengolahan pikiran-pikiran licik mulai merasuki pikiran kami HAHAHAHAHAHA.
1.      Putar musik GEDEEE (yah gak gede-gede amat sih), seenak udel aja kami muterin musik di lab.
2.      Mengeksplorasi setiap sudut lab
Disini kami menyimak dengan baik setiap benda yang ada di lab, termasuk alat-alat yang kalau mau dibilang Uwauu. Mulai dari mesin pembuat es krim, kulkas 2 pintu (ada kue ulang tahun punya Pak Max loh!), oven listrik, spektrofotometer atom!!!! Gillaaaa, kami boleh nyari keliling 1 Kota Kupang!! (LEBAY) buat nyari alat satu ini nih, buat uji Fe, ternyata ada di gizi !!!! Kudet amat kita yaa?? Sampe gak tau di gizi punya alat ini.
3.      AC kami nyalain sedingin-dinginnya (full AC broo)
4.      Beli minuman terus didinginkan di kulkas 2 pintu hehe
5.      Beli mie + telur (kami berencana untuk memanfaatkan semua peralatan yang ada di dapur gizi untuk kesenangan pribadi, contoh memasak mie di kompor gas milik gizi) tapi sayang selangnya dicabut ... kami orang kampung broo, gak tau masang gitu-gituan! Jadinya batal deh masaknya.
Ngomong-ngomong soal adonan, ini nih adonan kami, udah lebih keren penampilannya dibanding kemarin brooo, inilah hasil dari itung-itungan kami yeaahh (percobaan awal sebagai acuan kerja itu penting loh) !!

Dan ini mie yang kami keringkan
(Kami memanfaatkan oven yang ada di lab pengolahan makanan)

Setelah mienya jadi, kami punya ide brilian lagi, dimasak yukk mienya!!! Go to asrama buat minjem kompornya anak asrama, yeheeee. Sekalian masak mie dan telur yang udah dibeli, laper brooo.
 
Saatnya masaaakk!!

Ini mie kemasan pabrik sensor mereknya!!

Ini mie kelor kami (wuehh lah mbak bentuknya kok ndak karuan gitu) hehehe tenang aja ini Cuma sampel yang belum berkuah dan berbumbu hihihii 
Apa kata anak asrama???
“Mm, ho enak-enak, dia pung rasa kelor sonde begitu rasa, ma ke tawar ee????”
Jawab: Ho su ma, mie instan yang lain ju tawar aa
“Wii, besong pung mi ju kenyal ee””
Jawab: ooow iya dong, CMC punya kerja tuh
“Ma dia pung model kenapa begini??”
Jawab: ????????

27 Maret 2016
Hari ini personel udah lengkap nih!! Ada Chika, Nur, dan Agnes! Yeah, Moringa Fighters bersatuuuuuu!!! Kami mau buat mie lagi nih ceritanya, kemarin-kemarin itu gak begitu teliti kami membuatnya, misalnya penimbangan airnya gak dilakuin, suhu pengeringan juga masih rada-rada gak jelas. Jadi kami fixkan hari ini.. H-4 !!!!!!!! Disini banyak cerita lucu yang kami alamin. Mulai dari mana ya ceritanya???

Tim Moringa Fighter

Ide gila dari Agnes yang pertama, “Wee, ketong bawa itu oven yang di lab pengolahan makanan pi di sini sa (lab tekpang), supaya jangan cape-cape le ketong pi sebelah” OK FIX, kami pindahin tu benda berbentuk kotak ke lab tekpang! Seenak udel banget ya kami tuh!! Kalo ketahuan dosen gizi? Gak apalah, kan nanti kita balikin ke tempat semula.
Dipindahin deh akhirnya :D
Setelah itu mulai sibuk masing-masing deehh, ada yang menata mienya (Si Nenes)

Ada yang sibuk pipihin dan motong mienya (Si Chika)

Ada yang sibuk dengan adonan :D (Si Nuree)

Ini nih, ide gila kedua yang usil dari kami. Pada saat adonan mau diresting. Kemaren-kemaren sih kami cuma tutupin aja adonannya pake plastik kresek biasa, atau kalo gak pake loyang kue gitu, jelek amat kan? Ujung-ujungnya si Chika punya ide cemerlang nan hebat :D plastik wrap di lab pengolahan makanan kan ada, kenapa gak dipake aja??? Hahahahaeee, ambil aja!! SIKAATTT!!! Apapun yang bisa dipakai dalam lab ini pake aja.

JENGJENGJENG!!! Taraaaa, plastik wrap dimanfaatin juga deh (^^)

Ide gila ketiga dan lucu adalah saat pengemasan mie. Kami bingung nih mau dikemas pake apaan, mesti kereen nih, udah cape-cape buat mienya masa cuma ditaruh di dalam kertas?? Masa iya ngebungkusnya pake kresek??? Kan gak asyik tuh.
Ting!! Satu bola lampu muncul di kepala kami, setelah menelusuri salah satu sudut, di ruangan lab tekpang, ternyata ada alat untuk pembungkus loh, semacam alat penge-press-an dengan suhu cukup panas yang mampu merekatkan bungkusan plastik. Ini nih contoh alat yang saya ambil dari internet.
(Penulis bosen juga nih ceritain kisah Moringa versi bahasa gaul, ceritanya pake versi bahasa Kupang aja yaa) AHAaaaa! Tambah le ada plastik pembungkus yang dia pung rupa keren mati pung, jadi ketong manfaatkan su ini 2 benda. Tapi kawan dong, ini alat pembungkus ni lebih canggih ooo, ada dia pung tombol vacum ju kan ee (wauuww), itu tombol vacum tuh fungsinya apa ee? Kampung pung kerja ni begini su, jadi supaya ketong lebih memahami apa fungsi dari itu tombol vacum jadi ketong langsung coba untuk bungkus ketong pung sampel yang mau bawa pi lab ni oo, wee ini mie pung bentuk su bagus, cantik, macam mie di restoran tuh, nah abis pasang itu plastik di alat, ketong pi tekan tombol vacum. Ju ketong kira itu vacum tuh fungsinya isap udara ais langsung dia kasi rekat, ini sonde bapa, dia iiiiiiiiisaap kasi habis udara di dalam bungkusan tuh, sampe bunyi “kreekkk kreekk kreekk” AWEEEEE mie hancur ko tidak!!! Ketong 3 histeris oo, apa le beta, ko ais mie su gaga-gaga na remuk dalam waktu kurang dari 5 detik ni kermana oo?? Diantara ketong 3 hanya Agnes yang pikir cepat untuk tekan tombol cancel.  Hasilnya: Ya remuukk su ma dia pung mie (T.T) disitu kami terkadang merasa sedih.
Gambar pertama menunjukkan penampakan mie yang seharusnya
Gambar kedua menunjukkan penampakan mie yang sudah hancur akibat proses vacum!!
   Utuh 
      
 Remuk

Su cape buat mie dari pagi sampe malam akhirnya saat lapar pun tiba, Nur telpon salah satu teman terbaik yang rela-rela datang dari Kuanino hanya untuk pi beli nasi goreng dan antar pi ketong. MEGOSSS! Tengkyu cantik!!! Tapi sayang sesi foto-fotonya tak ada karena sibuk melahap nasi goreng...
Planning selanjutnya, minta uang di Ibu Ina dan uji lab!!! FIX tanggal 29 Maret harus fix su, karena itu su H-3!!!

29 Maret 2016
Pagi-pagi Agnes su datang di kampus kebidanan dengan tampilan baju bebas rapi yang berhasil membuat semua mahasiswi yang kebetulan lihat dia jadi terheran-heran, biasalah, kalo ketong tampak beda sendiri tuh akan jadi pusat perhatian.  Tapi sonde masalah, yang jadi masalah tuh kalo uang sonde ada, kalo uang sonde ada berarti tidak bisa uji lab, kalo sonde bisa uji lab berarti ketong sonde dapat hasil, kalo ketong sonde dapat hasil berarti ketong sonde bisa selesaikan karya ilmiah, kalo ketong sonde bisa selesaikan karya ilmiah berarti sonde bisa ikut lomba, kalo ketong batal ikut lomba berarti sia-sia ketong pung perjuangan selama ini!! Urusannya kan panjang.
Dewi Fortuna berpihak pada kita ko tidakk?? :D dua juta empat ratus ribu rupiah sudah ada ditangan!!!! Langsung ketong cao pi BLHD atau UPT Laboratorium Lingkungan untuk langsung lakukan uji lab. Tapi disini ketong bagi tugas, beta dan Agnes pi BLHD, Nur stay cool di kampus untuk menghadap ibu Watty (Kajur Kebidanan) dan perbaiki proposal yang baru direvisi oleh Mrs. Ina.

DI BLHD!!
Wuihhh gila, co besong di pihaknya Chika, kuliah di kebidanan tapi bisa nyasar di tempat ke begini, penuh dengan tabung-tabung kimia, cairan-cairan kimia, alat-alat kimia dong semua LENGKAPPPP!
Ketong mulai pengerjaan dari siap alat, timbang sampel, buat destruksi basah (apa tuh ee??? Belajar sendiri), penyaringan sampel, pengenceran sampel, sampe uji kandungan Fe dengan AAS (Atomic Absorption Spektrofotometri). Talalu Kereenn ABA!!! Ini ketong pung hasil-hasil foto.


Penimbangan sampel
Sampel yang sudah ditimbang 


 Sampel dilarutkan dengan HCL(p) + HNO3D

                   
Sampel ditambah aquades

Serius amat panasin sampelnya

 Narsis dulu hehehe 

 Hasil analis dengan AAS

            Wuih pokoknya keren abisss! Tapi kawan eee, itu hari yang melelahkan ju. Chika dan Agnes pi BLHD pagi, stay cool di itu lab ni lumayan lama ju, awe sonde, bukan lumayan tapi sangat lama. Tambah Agnes mau pi dinas le jam 2, otomatis Chika sendiri su ma di lab, tambah le Nur sonde ada kabar, tambah le Chika harus tanda tangan proposal sebelum jam 4 aweee beraaat. Kerja dengan perasaan sonde tenang ni parah kawan. Tapi Tuhan memang talalu baik, ketong patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk dapat banyak pelajaran, Nur ju waktu itu pas ujian proposal (Sukses!), Agnes ju akhir-akhir ini sering datang terlambat pas dinas tapi beruntung sonde begitu jadi masalah. Habis su cuci alat, terpaksa Chika harus tunggu hasil pengujian. Dan kawan dong tau apa??? Ketong bertiga terlalu-amat-sangat beruntung, karna kalau sesuai harga yang ditetapkan dari lab tuh tiap sampel harus bayar Rp 152.228,- nah sedangkan ketong pung sampel ada 12 kawan, co hitung sa berapa? Tambah le sewa lab bayar Rp 500.000,- jadi tambah su! Tambah le kalau ketong ikut masuk lab dan ikut praktik per orangnya tuh bayar tapi bayar berapa be lupa. Tapi puji Tuhan! Kepala tata usaha bilang ketong cukup bayar uji lab dengan hitungan 1 sampel sa + sewa lab, hanya itu sa! Chika dan Agnes yang masuk lab dan ikut praktik tuh su sonde perlu bayar le. Terlalu bersyukur teman-teman God’s plans its very good!
            Okeh lanjut cerita, pas hasil su keluar Chika langsung kembali kampus untuk kejar tanda tangan dosen, wii mama ee, perjuangan betul-betul kan, akhirnya dapat itu tanda tangan ju. Sonde sia-sia to pontang-panting dari BLHDàfotocopyanàkampus...
            Secepatnya ju ini hasil diinfokan pi Agnes, selanjutnya pi di Nur yang baru habis ujian proposal. Teman-teman disini ada satu hal yang mau ketong tiga paparkan secara jelas dan nyata, ini berkaitan dengan “niat”, teman-teman tolong disimak baik-baik karna ini sangat jelas dan nyata, dan terbukti ketong tiga alami, kalau ketong punya niat untuk melakukan sesuatu berarti ketong akan betul-betul berusaha untuk menyelesaikan itu sampai habis, dan kalau ketong melakukan sesuatu hal dengan ada niat apapun jalan yang ketong lewati pasti bisa ketong hadapi, sesulit apapun itu. Disini dibuktikan dari pengalaman yang ketong tiga alami, ketong nih punya waktu yang sama dengan teman-teman yang lainnya yaitu 24 jam sehari (sonde kurang dan sonde lebih) tetapi ketong mampu untuk menyesuaikan ketong pung waktu dengan teman lainnya, dong punya banyak waktu untuk bisa fokus di dong punya proposal atau dong pung dinas, tapi untuk ketong tiga tentu sonde teman, ketong pung waktu untuk fokus di proposal sangat sedikit karena ketong ju harus fokus di karya ilmiah untuk lomba, dan untuk bagi waktu/tenaga untuk itu 2 hal sangat-sangat sulit. Dan teman tau? Walaupun ketong pung waktu sedikit, ketong mampu dan bisa menyesuaikan ketong pung kemajuan proposal dengan teman yang lain. See?? Itu patut dibanggakan teman!
            Okeh, ini su H-2, hasil uji lab ju su di tangan, itu berarti besok ketong pung waktu untuk selesaikan pembahasan (apapun yang terjadi)!

30 Maret 2016
PEMBAHASAN!
            (Kembali ke versi bahasa gaul) Di Farmasi, setelah menunggu sekian lama, yang ditunggu pun datang! “Dari mana sa lu, Nes? Ketong tunggu dari tadi a” itu yang Chika dan Nur lontarkan saat Agnes nampak di biji mata. “Aduh, jangan marah, be baru dari ibu pung ruangan aa, kerja ini perhitungan nih. Aduh, Nur, Chika eee complicated! Benar-benar complicated”. Ya ampun, dilihat dari muka dan kata-katanya Agnes kayaknya bisa dipastikan pembahasan yang harus dikerjakan betul-betul akan memeras otak sampai benar-benar kering. Nah, yang bikin makin excited adalah yang membantu menjelaskan ke Si Agnes tentang perhitungan hasil lab ternyata dua dosen!! Ibu Maria Hilaria, S.Si.,S.Farm.,Apt.,M.Si dan Ibu Yorida F. Maakh, S.Si.,Apt.,M.Sc, thanks for them! Makin berasa kalau karya ilmiah yang dibuat memang benar-benar penting sepenting-pentingnya.
            Setelah Si Agnes mendapatkan ilham dari para dosen, sekarang giliran Chika dan Nur yang mendapat ilham dari Agnes. “Nur dan Chika, jangan marah, kayaknya besong harus kerja sendiri dia pu perhitungan, karna be mau dinas, tadi be su diajar sama ibu dong tadi, ini dia pung cakaran (sambil ditunjukin ± 5 lembar kertas HVS yang isinya cakaran semua!!!) Dan be sarankan sebelum besong kerja ini, besong pulang rumah, makan memang, mandi memang, minum susu, supaya besong bisa benar-benar fokus kerja” Whaatt???? Wuidih, sampe segitunya??? Memangnya perhitungan jenis apa itu???? TIDAAAKKK!! Rasanya seperti ditimpa setumpuk daun kelor! Toengg!!
            Okeh! Saatnya untuk fokus! Kami pun mulai merancang isi pembahasan yang akan dibuat, berusaha menemukan setiap poin-poin penting dan menarik yang dapat menarik perhatian para juri untuk memberi nilai tambah. Membuat pembahasan lebih sulit dibanding membuat tinjuan teori brai! Kita harus bisa menemukan kata-kata menarik yang dapat memberi nilai tambah pada penelitian kita.
            Merekam adalah salah satu cara yang kami pakai untuk saling mengajari, basic farmasi sama sekali tidak ada diantara Chika dan Nur tapi Agnes mampu menjelaskan  dengan baik. Dan saat proses pengajaran (cieh), kami merekam dengan kamera apa yang diajarkan, supaya kalau lupa kan tinggal direview lagi hehehe.
Malam harinya dikampus kebidanan...
            (cerita versi Chika) Saya dan Nur mulai melakukan perhitungan! Tak lupa, kalkulator ilmiah yang kami pinjam dari Pak Max, itu penting banget brai!! Cakar-cakar-cakar-cakar kami mencoba nomer yang pertama, kata Agnes kalau perhitungan kami benar berarti hasilnya harus sama dengan perhitungan yang dibuat oleh dosen farmasi tadi.
            Suasana ruang kelas begitu sepi karena saking fokusnya kami berdua. Perhitungan pertama hasilnya menunjukkan digit angka yang sama dengan perhitungannya dosen, tapi sayang beda ‘koma’nya. Ngitung lagi deh, ngitung-ngitung-ngitung, DAPET!!!! Gilaaaa, proses perhitungan yang cukup menguras otak, kalau aja AC diruangan itu gak nyala, bisa dipastikan butiran-butiran keringat sebiji jagung bakalan mengalir di pelipis kami.
            Walaupun 1 nomer berhasil kami dapatkan hasilnya, bukan berarti selesai sudah perhitungan yang kita lakukan, lihat bro! Lihaaatttt! Masih ada sekitar SERATUS lebih nomer yang harus kita kerjain!!! Dan bukan hanya itu, setelah semua perhitungan udah dikerjain, kita mesti mencari materi untuk membantu agar produk kita ini bisa “terangkat”, dan perlu teman-teman tahu untuk membuat pembahasan itu jauh lebih sulit daripada membuat tinjauan teori seperti yang sudah saya bilang sebelumya, kita harus menyusun kata demi kata untuk membentuk suatu paragraf, nah untuk mendapatkan 1 kalimat yang benar itu bisa membutuhkan waktu setengah jam!!! Ini udah jam 7 malam, kita belum makan (hanya ada 1 dus aqua yang entah punya siapa), belum mandi, terus ini mau dikerjain sampai jam berapa, besok udah batas pengumpulan, TIDAK!!! Tuhan turunkanlah malaikat-malaikatMu untuk membantu kami menyelesaikan tugas kami ini. Tok tok tok!!! “Permisi kak” tiba-tiba 4 orang adik tingkat kami masuk ke ruangan yang kami pakai “Aha!!! Penolong datang!”
            “Malam ju ade, mo kerja tugas ko?” tanya kami kompak.
            “Sonde kak”
            ”Ju? Oo, mau nebeng AC ko??”
            “Hehe, sonde kak” haeee??
            “Oo, ini besong pung kelas aa?”
            “Iya kak”
              “Oooo, iyaiya” diambilah 4 kursi di ruangan itu lalu ditempati oleh keempat cewek ini.
            “Oya, besong tau ko dos yang isi botol aqua dibelakang tuh sapa pung?” tanya Nur
            “Kita pung kelas pung kak, untuk dosen”
            “Jual ko? Kalau be haus b mau beli” setidaknya kan kita membayar, gak hanya mengambil.... tak lama...
            “Ade” sapa Nur lagi-ramah (modus mulai keluar)
            “Sonde sibuk to?” tanya Nur
            “Sonde kak”
            “Oo, sonde kerja tugas aa? Eh atau besong ada mau buat apa?”
            “Sonde kak, mau tulis askeb ma ketong lupa bawa askeb ju kak, ketong mau cas laptop sa” wuihh pas bangettt.
            “Ow, na bantu kaka doo, sebentar sa. Bisa ko?” bujuk Nur pean tapi pasti.
            “Bantu apa kak?”
            “Bantu itung-itung sa, bisa to??? Sonde susah”
            “Ow iya kak” HOOREEEEE doa terkabulkan! Ada yang bantu kami ngerjain itung-itungan deh!
            Nah, mulailah kita mengajari perhitungan (yang mudah aja), nurut juga sih mereka hehehe, mau ngelawan kakak tingkat??? Gak sampai sejam, perhitungan pun selesai dikerjakan oleh kami berenam. Makasih banget buat ade-ade tingkat ini, tertolong deh, selesai perhitungan kami melanjutkan menyelesaikan perhitungan terakhir untuk menarik kesimpulan, lama-lama mudah juga dikerjain.
            Tidak lama saya dan Nur memutuskan untuk pindah tempat kerja ke lobi kampus, udah malam kaleee, seenggaknya kita ngerjain ditempat yang gak horor-horor amatlah. Di lobi, tak nampak satpam kampus (mungkin lagi patroli).
            “Chik, pinjam hape do, missed call sa” kata Nur sambil mengambil hapenya saya. Yang dicari ternyata ada ditas.
            “Thanks ee” Kata Nur lagi. Hape yang tadi dipinjam saya letakkan di atas meja, trus saya lanjutin kerjaan di laptop.
            Ringtonenya Nur bunyi, ada telpon masuk.
            “Chik!!!” panggil Nur, tampangnya nampak menakutkan.
            “Apa?”
            “Lu telpon be?????” saya bingung dengan pertanyaan itu, dari tadi kan saya gak megang hape, dari tadi mah sibuk di laptop aja, nah hapenya sendiri lagi teduh-teduh aja tuh di atas meja.
            “Lu gila!!! Be sonde pegang hape na, ko hape disitu tuh” sambil tunjuk hape yang layarnya sedang mati.
            ”Ju ini apa????!!” sambil menunjukkan layar hapenya yang tertulis ‘Cika Pello memanggil’ DEG!!!! APA??????
            “Nureee!!!!! Be sonde telpon lu aa, sungguh ni!! Lu liat sendiri tadi to be sonde pegang hape!” ketakutan mulai menggerogoti saya.
            “Na ju sapa yang telpon ni?? Itu jelas-jelas lu pung nama aa”
            Waahh, gila ni, ini gila banget nih namanya. Siapa sih yang iseng gini???? Masa iya hape bisa nelpon sendiri??? Malem-malem, sepi, gak ada orang, tiba-tiba hape tampak aneh begini, horor amaaaaat! Dengan rasa takut yang amat sangat (Wuihh) saya menelusuri log panggilan terakhir ‘panggilan terakhir ke Nur itu pukul 21.15!’ sedangkan telpon masuk barusan jam 21.18!!! Bukan saya yang melakukannya!! Bukan hapenya juga yang melakukan!! Lalu siapa??? Sudah jelas yang ada dipikiran kami adalah....S_E_T_A_N!
            OK FIX!! Mungkin ini pertanda kalau sudah waktunya untuk pulang! Sudahlah gak mungkin juga kan kita nginep di kampus untuk menyelesaikan karya ilmiah ini. Pack barang-barang dan go to home RIGHT NOW!

31 Maret 2016
DEADLINE!!!!!!!!!
            Hari yang membuat jantung berdebar kencang!!! Oh Tuhan ini sudah deadline! Ini bukan H- lagi tapi J-! Pagi-pagi Chika dan Nur sudah datang kampus dan langsung melanjutkan tugas kami yang belum selesai yaitu “melanjutkan pembahasan”! waduh belum makan lagi, nasi kuning? Makan bareng? Pecaahh, pasti enak banget. Isi perut dengan nasi kuning yang dibeli di dekat kampus, uenaakk pisan euyyy.
            “Nur, minum ketong ame di itu dos aqua dibelakang sa ko? Ketong taro uang sa di it dos” otak mulai ‘Slep’.
            “Ho ame su, ketong sonde curi ju” satu otak ternyata.
            Kebiasaan buruk, kadang kala kita gak punya niat untuk mencuri, kita berniat untuk membayar, tapi pasti ujung-ujungnya lupa bayar. Tanda aja!
            Sehabis makan, kami berencana untuk pergi ke farmasi melanjutkan pembahasan karya tulis dan menyelesaikan administrasinya. Sesampainya di farmasi, kami bertiga mulai membagi tugas dan berkutat dengan laptop masing-masing. Seriuuussss banget, sampai teman jurusan lain negur aja, kita anggap makhluk asing yang mengganggu (hehe sorry). Semakin mendekati jam pengiriman karya, suasana semakin terasa genting.
            Pas dilihat-lihat ternyata masih banyak pekerjaan yang belum diselesaiin nih, administrasi pendaftaran dan pengiriman belum juga kelar 100%, belum minta tanda-tangan direktur, belum nge-scan formulir, belum ngubah file ke pdf, aduh pokoknya banyak banget deh. Ibu Priska pun menyarankan kami untuk membagi tugas, Agnes yang menyelesaikan pembahasan, Chika dan Nur menyelesaikan administrasi. Ok fix, Chika dan Nur pun langsur meluncur ke direktorat untuk meminta Direktur menandatangi formulir yang akan dikirimkan. Prosesnya panjang bro, setelah mendapat tanda tangan pak Direktur, kita mesti nge-cap formulirnya di direktorat, di direktorat kita masih di nasihatin lagi sama Ibu Pudir (karna kesalahan kita juga sih), habis itu pergi nyari warnet untuk nge-scan formulir yang udah ditanda-tangani.
Ini dia hasil usaha kami untuk mendapatkan tanda tangan direktur

                                                   
Setelah semuanya kelar, balik deh ke Farmasi. Agnes, Nur, Chika dan Ibu Priska, kami berempat selama berjam-jam berkutat dengan laptop untuk menyelesaikan penelitian ini. Setiap menit mata kami terus bergantian menatap jam dinding dan laptop, berharap waktu bisa berhenti sejenak untuk memberikan kami kesempatan menyelesaikan penelitian ini dan mengirimnya ke panitia tepat waktu.
            Batas pengumpulan adalah jam 6 sore waktu Indonesia Tengah, sebentar lagi jam 6, semakin jarum panjang mendekati angka 12 keringat kami semakin mengucur makin deras. Saat kami sadar waktu tidak cukup, maka jalan alternatifnya adalah menelpon panitia untuk memberikan kami kelonggaran waktu. Puji Tuhan, dari panitia mau mengerti kondisi kami, tepat jam 18.11 WITA hasil penelitian telah dikirimkan ke panitia disertai dengan doa. 
Detik-detik pengiriman KTI secara online

Kami bertiga pun berdoa bersama-sama, mengucapkan syukur pada Tuhan karena kami berhasil menyelesaikan karya ilmiah kami dan telah dikirim, airmata bahagiapun mengucur deras dari pelupuk mata kami bertiga, inilah yang dinamakan perjuangan, inilah yang dinamakan kekompakan, inilah hasil kerja keras kami selama 36 hari! Kami tak menyangka akan sampai di titik ini.
Tak lama, ada sms masuk ke nomernya si Agnes. Dari Panitia!! Isi smsnya...

Yeeyyy, karya ilmiah kami telah sampai ke panitia, saatnya bagi kami bertiga untuk menunggu hasilnya. Ini adalah langkah awal bagi kami untuk membuktikan bahwa orang NTT juga mampu bersaing, dan terutama mahasiswa Poltekkes Kupang pasti mampu untuk melakukannya. Yeaahhh!!!
Ini dia momen-momen yang tak terlupakan bagi kami bertiga
Habis nangis-nangisan bareng selfie dulu :)
@Jurusan Farmasi

3 Mei 2016
            “Chik, pengumuman su keluar!!! U tau??? Ketong masuk 15 besar, ketong peringkat ke-13 dari 178 peserta!!! Ketong ju masuk dalam daftar peserta Waiting List, kalo dari 10 besar ada 3 tim yang sonde melakukan registrasi, berarti ketong bisa masuk 10 besar!!” Kata Agnes via telpon.
            Tuhan, terima kasih, ini jawaban dari semua usaha kami!! 

            Gak percaya! Itu yang ada dibenak kami bertiga, tapi yang membuat kami yakin adalah ini nihhh...


            Kisah penuh perjuangan dan pengorbanan. Kisah yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Kisah yang penuh suka, duka, tangis, dan tawa. Kisah yang tidak akan pernah terlupakan semasa kuliah di Poltekkes Kemenkes Kupang. Inilah akhir dari misi kami, missions is complete! Inilah persembahan terakhir kami sebelum di wisuda bulan Oktober 2016 nanti (AMIN).


"Menang itu bukan soal ranking kawan, bukan soal berapa banyak yang kau kalahkan, tapi menang itu soal seberapa banyak kau melibatkan Tuhan dalam apa yang kau kerjakan"  
- Agnes -

“Jika ingin tim kamu berhasil, maka setiap orang yang ada dalam tim itu harus memiliki niat dan kepercayaan untuk mencapai keberhasilan. Jika satu saja anggota tim kamu yang tidak memiliki niat dan kepercayaan, maka sia-sialah usaha kalian” -Chika-

"Recipe from MORINGA team: pour the intention, then thinly slice our principles, sprinkle the effort, last...mix it all with sweetest pray and a lot of togetherness"  -Nur-