Moringa Fighter’s Story
Ini adalah kisah kami, 3 mahasiswi Poltekkes Kemenkes Kupang (Agnes Vivi Lestary-Farmasi, Cantika Pello-Kebidanan, Nur Raihani-Kebidanan) yang berusaha menyelesaikan sebuah misi yang kami namakan misi "36 Hari Menuju MARSS 2016", dimana dalam waktu 36 hari kami harus menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah untuk dilombakan di ajang MARSS (MIPA Road to Scientific Paper and Seminar) yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta, sebuah ajang yang menggugah hati kami untuk bersaing melawan seluruh universitas yang ada di Indonesia dan berusaha mengharumkan nama Poltekkes Kemenkes Kupang. Kami menyebut diri kami dengan sebutan "Moringa Fighter" a.k.a Pejuang Moringa, Moringa diambil dari nama Latin daun kelor, jadi jika diterjemahkan lebih sederhana artinya Pejuang Kelor. Disini kami bereksperimen untuk membuat suatu produk makanan dari daun kelor yang memiliki kandungan Fe atau zat besi untuk mencegah anemia, produk ini kami namakan "MoKoe Mie" atau MOringa KOEpang Mie. Mau tau bagaimana kisah kami?? Let's Read It!
23 Februari 2016
Berawal
dari.....
25 Februari 2016
Pertemuan
pertama!
Wah,
excited buat salah satu dari kami si Agnes yang sudah mengajak mengikuti lomba
ini. Dan yang diajak (Chika dan Nur) ternyata punya semangat sama dengan Agnes untuk
mengikuti lomba ini. Nekat mengikuti lomba... ternyata kami punya pemikiran
yang sama, “kurang kerja” mungkin itulah istilah yang tepat untuk kami, mengapa
dibilang begitu? Karena keputusan kami untuk mengikuti lomba ini terbilang beresiko
besar. Mari ta’ jelasin lebih detail. Saat ini kami sudah menapaki masa sebagai
mahasiswi tingkat III di Poltekkes Kemenkes Kupang dan saat ini kami sedang
sibuk-sibuknya untuk mengurusi dinas, menyusun proposal, ujian praktik, PKL de
el el yang kalau mau dibilang bisa bikin kepala pecah. Tapi, gilanya kami
adalah kami berani mengambil risiko untuk membagi waktu, pikiran, dan tenaga
kami untuk membuat karya ilmiah untuk lomba yang diselenggarakan oleh UNY
(Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam pertemuan pertama ini, masing-masing
dari kami mengemukakan alasan utama mengapa kami mau mengikuti lomba ini. Dan
jawaban yang dilontarkan adalah ....
1. Ingin memiliki pengalaman
bersaing di tingkat nasional
2. Ingin menemukan hal baru
3. Ingin mengetahui sejauh mana
limit kami
4.
Ingin
mempersembahkan ‘sesuatu’ yang membanggakan bagi calon almamater dalam hal
ini Poltekkes Kemenkes Kupang
|
Jadi, perlu ditekankan disini ya,
alasan kami mengikuti lomba ini sama sekali bukan karena uang atau ketenaran
ataupun merasa yang paling hebat. Tapi disini kami ingin belajar, kita semua
tau kan belajar itu ada banyak caranya, dan salah satunya ini nih!
OK FIX! Setelah ‘acara pembukaan’, kami langsung
menyusun gambaran kasar dari karya ilmiah yang akan kami buat, dan....JENGJENGJENG!
Kami memutuskan untuk mengambil sub tema kesehatan yang tidak jauh dari bidang kami
(jelas lah).
Nah,
sketsa rencana awal kami itu begini:
BUMIL - Anemia - tingkatkan kadar Hb - bahan makanan yang bisa membantu
meningkatkan kadar Hb - olah bahan
tersebut menjadi sebuah produk - bisa bersaing
di era MEA !!! Uwauuuw ide brilian!!! Ting ting (^.~)
Eitss tunggu dulu, ini belum berakhir!!!
Ternyata dari beberapa hari pertemuan kami, begitu banyak ide yang muncul dari balik
tengkorak kami, mulai dari membuat produk suplemen, membuat sosis (rencananya
dari kacang hijau), membuat es krim, PMT untuk bumil, sereal, de el el, dan de
el el (pokok e mbuaanyak lah). Mengkhayalnya banyak pake banget.
Pemikiran kami pun berkembang lagi dengan
berencana untuk bekerja sama dengan jurusan lain diantaranya gizi, farmasi, dan
analis. Gila gak tuh??? Keren kan?? Jadi gini nih, di gizi kami membutuhkan laboratorium
beserta alat-alat masak mereka untuk membuat produk, di farmasi kami
membutuhkan laboratorium dan alat untuk pengujian makanan, dan di analis kami
membutuhkan tenaga-tenaga analis untuk mengukur kadar Hb ibu hamil... jauh
banget tuh pemikiran kami...sooooo faaaaarrr, yeeeaaahhh! Wahh, kerenn deh
pokoknya.
Ternyata eh ternyata, ada beberapa hal
yang tidak bisa kami lakukan alias belum bisa menjadi kewenangan kami. Finally,
kami memutuskan untuk membuat produk dari daun kelor yang notabene adalah
tanaman berkhasiat ajaib yang banyak terdapat di daratan Timor! The Miracle Tree! Dengan dibantu oleh
ibu Priska E. Tenda., SF.,Apt.,Msc dosen Farmasi, kami bertiga berjuang untuk
membuat karya tulis dalam waktu 36 HARI!!! Sejak pertemuan pertama itu, kami
selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan menyusun karya tulis kami, sampai kemalaman
pula!! Tak mau ketinggalan hotspot “orang bahagia” always on broooo.
12 Maret 2016
Yang namanya mau menapaki kesuksesan yaa
yang pasti akan ada banyak rintangannya bro. Super_Duper_Banyak_Banget
tantangan yang kami hadapi, mulai dari mencari kebun kelor, tepung kelor,
laboratorium untuk pengujian makanan (LABKES, Lab FKIP undana, BLHD), dan tempat
untuk proses pembuatan mie. Pernah juga nih, kita bisa sampai mesti nyari ekstruder
(alat untuk membuat sereal) ke Poli tani dan FAPERTA. Waktu itu masih belum ada
kepastian mau buat mie atau sereal.
Ini nih potret perjalanan kami mencari
kebun kelor di Desa Sokon Fatukoa.
Begitu jauhnya perjalanan membuat kami
lelah, namun sesampainya di kebun kelor milik wirasakti ini, pecah deh rasa
cape kami...
Sesampainya disana kami bertemu dengan
Pak Karim, beliau adalah salah satu tentara yang mengelola kebun kelor
di desa Sokon. Disana, kami juga bertemu dengan pasangan suami istri, Pak Sigit
dan Ibu Yun. Cerita punya cerita nih, Bu Yun juga memiliki kebun kelor di
daerah Raknamo, dan beliau berencana untuk membuat sebuah rumah makan di Raknamo
(mungkin di dekat kebun kelornya itu) yang menyediakan berbagai hal berbau
kelor, baik itu makanan maupun minuman. Wah gila deh pokoknya cerita ama si
beliau yang super active ini.
Saat bertemu dengan Pak Karim dan menceritakan
alasan kedatangan kami. Kami diberi banyak informasi mengenai tanaman kelor,
wah takjub deh sama tanaman ajaib ini, keren deh pokoknya, kami juga ditawari
oleh Pak Karim untuk mempertunjukkan produk kami di pameran nanti (Boleh lah
Pak). Sayangnya waktu sudah tidak memungkinkan (waktu itu sekitar pukul 18.00
WITA) maka kami pun sepakat untuk melakukan panenan esok harinya...Semangat deh
pokoknya untuk panenannya. Fighting buat Moringa Fighter!!!
13 Maret 2016
HARVESTMOON!!!
Semangat banget nih buat panen, tapi
sebelum panen narsis dulu di penangkaran Rusa (kami baru tahu kalo penangkaran
rusa ternyata ada juga di NTT) (^^) hehehe.
Dalam perjalanan kami kali ini, kami
membawa serta Milin teman kami dari farmasi. Yah daripada nganggur di asrama,
mending ikutan panen kelor kan ? hehehe.
Sesampainya di Surga Kelor...uyeeeaahh!
Lebay! Aduh lupa, ada satu tempat di kebun kelor itu yang kuueereeen banget.
Ini nih, semacam kolam ikan kecil yang super duper keren (versi kita)...
Sebelum panen, kumpul energi dulu dengan
masakan Jagung Rebus broo, lauknya pake daun kelor aja biar lebih menjiwai
katanya (eeh???)
Panen sampe
bengkok gengz :D :D
Panen gak butuh banyak waktu brooo,
dalam waktu sejam kami bisa mendapatkan 5 bakul besar penuh dengan daun
kelor...Tapi setelah memanen ada tugas berat yang harus kami kerjain, yaitu
menyerut daun kelor dari batangnya, gilaaaaaa, udah banyak begitu, mesti diserut satu-satu lagi!...Dan bukan hanya itu,
dalam proses penyerutan kita harus berlomba dengan waktu, karena kata Pak Karim
setelah kelor dipotong dari pohonnya, harus sudah dibawa ke tempat pengeringan
dalam waktu kurang dari 4 jam... Dari jam 4 sore kami seruuuuuuttt semua
daunnya, dan kerjaan kita kelar pada pukul 7 malam. Dan hasil timbangan
menunjukkan hasil panenan kami sebanyak 18,9 kg daun kelor basah. UWAAUUUUWWW!!!
(O.O)
Setelah proses penyerutan, buru-buru kami
langsung ke tempat pengeringan yang kata Pak Karim jauhnya ±14 km dari kebun
kelor, gilaaa!! Ya udah cepet-cepet kami go to Pesantren Nurhidayah Tullah Batakte tempat
proses pengeringan dilakukan.
Tempat pengeringan ini khusus dibuat
untuk pengeringan daun kelor, ruangannya tertutup dengan penyinaran sinar lampu
(6 buah lampu sorot) sehingga suhu ruangan berkisar antara 30-35 ͦ C gak boleh
lebih gak boleh kurang. Kami aja yang mau masuk harus ikat rambut, pake masker,
pake handscoon, buka sepatu. Keren nggak tuh?
Nah ada juga nih cerita lucu dan sedih
yang kami alami, malam-malam pas lagi sibuk-sibuknya nyari kosnya ibu
Priska..Eh tau-tau, Bruuuggg!! Wwah, jatuh motor dah saya ama si Agnes.
Gilaaaa, Lumpur lapindo kalah brooo, tebalnya lumpur basah membuat motor kami
tergelincir berantakan brooo...parah deh pokoknya.
Sabtu, 19 Maret 2016
Penggilingan
Kelor!
Pagi-pagi jam 8 ke gereja Maranatha
(hanya sebagai tempat singgah) untuk nungguin si Nur, rencananya hari ini kami mau
menggiling daun kelor yang sudah kering. Sama Pak Karimnya disuruh tunggu di
depan gereja karena rumahnya dekat situ. Yang ditunggu tidak datang-datang, yo
wes langsung saja ke rumahnya. Di telpon di kasitau “nanti dari gereja naik ke
atas, belok kanan-belok kiri-rumah ke 5 pagar hijau” (dengan logat Bimanya),
Okeh, let’s go, Tapi yang dicari-cari tidak ada. Pas ditelpon lagi, kata beliau
setelah dari gereja naik ke atas trus belok kiri??? Hehh??? Ya sudah, cari lagi
dah kami berdua. Trus lihat ada seorang bapak berbaju loreng, tanyalah kami ke
dia. Seram amat mukanya, tapi suaranya tidak seseram mukanya. Cari cari cari dapat
deh, dari situ pak Karim menemani kami ke Pesantren untuk menggiling kelor....
Sesampainya
di pesantren...
Chika dan Nur beserta anak-anak
pesantren mengumpulkan daun kelor yang sudah kering (3 hari 3 malam di
keringkan dalam ruangan bersuhu 30-35 derajat celcius).
Terus melalui alat penggilingan kami
belajar bagaimana cara mengubah daun kelor menjadi tepung kelor. Uwaaaa
kereeennnn. Hari ini Agnes nggak ikut karena ada urusan di kampusnya (makanya
kita bilang misi kita ini benar-benar beresiko dalam artian kami berjuang
melawan zona nyaman kami).
Nah ini dia
moringa flour/tepung kelor :D Pecaaaahhhh!!!
Setelah ditimbang ternyata beratnya 4 kg loh!
Setelah ditimbang ternyata beratnya 4 kg loh!
Thanks ya buat
anak-anak pesantren Batakte
23 Maret 2016
Hari
yang ditunggu-tunggu!!!
Di tengah kesibukan kami yang lagi
sibuk-sibuknya konsul proposal dan persiapan PKL, kami masih mampu menyisipkan
pekerjaan “kurang kerjaan” kami yaitu MEMBUAT MIE KELOOOOORR.. yeaaahh Amazing
brai dan bersyukur karena kami menjalaninya dengan semangat pantang menyerah,
tentunya bagi kami ini adalah pekerjaan yang menyenangkan!!!
Hari ini adalah hari fakultatif di
kampus, gak ada aktivitas kampus tapi para dosen masih ada yang datang ... yah, namanya mahasiswa yaa, di saat
gak libur malah hilang, di saat libur malah nongol hohoho. Sama nih, si Chika
dan si Nur juga, di saat fakultatif begini teman-teman pada sibuk nyari dosen
untuk tanda tangan proposal, ada yang konsul, tapi si Chika dan si Nur menyibukkan
diri untuk berkutat dengan tepung, garam, timbang-timbang bahan, membuat
adonan, yah pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan proses pembuatan mie
kelor. Pagi-pagi kami berdua udah ngumpul tuh di laboratorium teknologi pangan
di Jurusan Gizi, bertemu Pak Max salah satu dosen gizi yang kami percayakan
untuk menemani kami mengolah mie kelor. Tapi naasnya alat pemotong mienya rusak.
Ya udah, sambil nunggu alatnya diperbaiki, kami cao untuk mencari bahan-bahan
yang diperlukan untuk pembuatan mie.
Tepung kelornya kami ambil di kosnya
Nur, tepung terigunya kami beli di kios dekat kosnya Nur, CMCnya kami beli di
RJ salah satu toko swalayan di Kota Kupang. Sejenak ketika kami sampai di
laboratorium kami pun iseng memotret sisa-sisa rupiah di dompet kami, alamaaakk
banyak kali ini.
Sesampainya di laboratorium, “Aduh adik,
ini pemotong su sonde bisa lai, besong pake pisau sa untuk potong dia pung mie,
atau pake cutter ko” kata Pak Max
saat kami tiba. Oalah pak, pake pisau? Kapan habisnya kalo kami pake pisau???
Biasalah, untuk mencapai kesuksesan itu
pasti jalannya gak mulus, ya ada lembahnya, ya ada gunungnya. Pertama, alat
pemotong mie rusak. Kedua, ada 3 bahan yang gak kami dapetin (Na2CO3,
K2CO3, STPP). Ketiga, resep yang kami ikutin gak
menghasilkan mie yang bagus brooooo. Terus Pak Max bilang gini “Sudah besong
buat su sendiri, buat sampe jadi ee, kalo sonde na tanya di Ibu Indira dia pung
perbandingan”.
@Di Laboratorium
Teknologi Pangan Jurusan Gizi Bersama Pak Max (dibelakang komputer)
Catet nih!!! Chika dan Nur adalah dua mahasiswi kebidanan, KE-BI-DA_NAN. Sama
sekali tidak ada basic gizi-gizian
gitu, wajar jugalah hasil adonan kami gak karuan, alhasil kami mesti
berkonsultasi ke ahlinya, IBU INDIRA! Yeaahh!
Okeh, dari hasil konsultasi dengan ibu
Indira, kami pun mulai mencoba-coba resep sendiri, berusaha mengukur,
menimbang, dan menerka-nerka perbandingan antara tepung kelor dan tepung terigu
yang PAS untuk menjadi khalis. Yuhuuuu inilah hasil adonan kami..Bagaimana
menurut kalian??? Menurut kami ini nampak seperti sebongkah tai kering uueekk
:p hahahahaha (bercanda).
Ketika menjelang maghrib, kami
memutuskan untuk menyudahi kegiatan hari ini untuk dilanjutkan besok. “Aduhhh,
kalian besok praktik sendiri sa ee, saya mau ke Atambua, jadi tidak bisa temani”
kata Pak Max. Oke sip pak!!!
Sebelum kami pulang, si Agnes datang...Nur
dan Chika mulai menceritakan kendala-kendala yang tadi didapatkan. Lalu kami
bertiga mulai membuat rencana untuk besok dan mulai menghitung perbandingan
yang sekiranya pas untuk adonan sebuah Mi, Bertigaan sampe malem di luar lab!!! Di tangga pula!!!
Horor broo!!!
Ini nih salah
satu hasil diskusi kami mengenai itung-itungan
24 Maret 2016
Sesampainya di labà buka lab tekpan dan pengolahan
makananàsiapkan alat dan
bahan (sok-sok bangeeett kayak lab sendiri)àmulai
mengolah bahanàditengah
pengolahan pikiran-pikiran licik mulai merasuki pikiran kami HAHAHAHAHAHA.
1.
Putar
musik GEDEEE (yah gak gede-gede amat sih), seenak udel aja kami muterin musik
di lab.
2.
Mengeksplorasi
setiap sudut lab
Disini
kami menyimak dengan baik setiap benda yang ada di lab, termasuk alat-alat yang
kalau mau dibilang Uwauu. Mulai dari mesin pembuat es krim, kulkas 2 pintu (ada
kue ulang tahun punya Pak Max loh!), oven listrik, spektrofotometer atom!!!!
Gillaaaa, kami boleh nyari keliling 1 Kota Kupang!! (LEBAY) buat nyari alat
satu ini nih, buat uji Fe, ternyata ada di gizi !!!! Kudet amat kita yaa?? Sampe
gak tau di gizi punya alat ini.
3.
AC
kami nyalain sedingin-dinginnya (full AC broo)
4.
Beli
minuman terus didinginkan di kulkas 2 pintu hehe
5.
Beli
mie + telur (kami berencana untuk memanfaatkan semua peralatan yang ada di dapur
gizi untuk kesenangan pribadi, contoh memasak mie di kompor gas milik gizi)
tapi sayang selangnya dicabut ... kami orang kampung broo, gak tau masang
gitu-gituan! Jadinya batal deh masaknya.
Ngomong-ngomong
soal adonan, ini nih adonan kami, udah lebih keren penampilannya dibanding
kemarin brooo, inilah hasil dari itung-itungan kami yeaahh (percobaan awal
sebagai acuan kerja itu penting loh) !!
Setelah mienya jadi, kami punya ide brilian lagi, dimasak yukk mienya!!! Go to asrama buat minjem kompornya anak asrama, yeheeee. Sekalian masak mie dan telur yang udah dibeli, laper brooo.
Saatnya
masaaakk!!
Ini mie kelor
kami (wuehh lah mbak bentuknya kok ndak karuan gitu) hehehe tenang aja ini Cuma
sampel yang belum berkuah dan berbumbu hihihii
Apa kata anak asrama???
“Mm, ho enak-enak, dia pung rasa kelor
sonde begitu rasa, ma ke tawar ee????”
Jawab: Ho su ma, mie instan yang lain ju
tawar aa
“Wii, besong pung mi ju kenyal ee””
Jawab: ooow iya dong, CMC punya kerja
tuh
“Ma dia pung model kenapa begini??”
Jawab: ????????
27 Maret 2016
Hari ini personel udah lengkap nih!! Ada
Chika, Nur, dan Agnes! Yeah, Moringa Fighters bersatuuuuuu!!! Kami mau buat mie
lagi nih ceritanya, kemarin-kemarin itu gak begitu teliti kami membuatnya,
misalnya penimbangan airnya gak dilakuin, suhu pengeringan juga masih rada-rada
gak jelas. Jadi kami fixkan hari ini.. H-4 !!!!!!!! Disini banyak cerita lucu
yang kami alamin. Mulai dari mana ya ceritanya???
Ide gila dari Agnes yang pertama, “Wee,
ketong bawa itu oven yang di lab pengolahan makanan pi di sini sa (lab tekpang),
supaya jangan cape-cape le ketong pi sebelah” OK FIX, kami pindahin tu benda
berbentuk kotak ke lab tekpang! Seenak udel banget ya kami tuh!! Kalo ketahuan
dosen gizi? Gak apalah, kan nanti kita balikin ke tempat semula.
Ada yang sibuk
dengan adonan :D (Si Nuree)
Ini nih, ide gila kedua yang usil dari
kami. Pada saat adonan mau diresting.
Kemaren-kemaren sih kami cuma tutupin aja adonannya pake plastik kresek biasa,
atau kalo gak pake loyang kue gitu, jelek amat kan? Ujung-ujungnya si Chika
punya ide cemerlang nan hebat :D plastik wrap di lab pengolahan makanan kan ada,
kenapa gak dipake aja??? Hahahahaeee, ambil aja!! SIKAATTT!!! Apapun yang bisa
dipakai dalam lab ini pake aja.
Ide gila ketiga dan lucu adalah saat pengemasan mie. Kami bingung nih mau dikemas pake apaan, mesti kereen nih, udah cape-cape buat mienya masa cuma ditaruh di dalam kertas?? Masa iya ngebungkusnya pake kresek??? Kan gak asyik tuh.
Ting!! Satu bola lampu muncul di kepala kami,
setelah menelusuri salah satu sudut, di ruangan lab tekpang, ternyata ada alat
untuk pembungkus loh, semacam alat penge-press-an
dengan suhu cukup panas yang mampu merekatkan bungkusan plastik. Ini nih contoh
alat yang saya ambil dari internet.
(Penulis bosen juga nih ceritain kisah
Moringa versi bahasa gaul, ceritanya pake versi bahasa Kupang aja yaa) AHAaaaa!
Tambah le ada plastik pembungkus yang dia pung rupa keren mati pung, jadi ketong
manfaatkan su ini 2 benda. Tapi kawan dong, ini alat pembungkus ni lebih
canggih ooo, ada dia pung tombol vacum ju kan ee (wauuww), itu tombol vacum tuh
fungsinya apa ee? Kampung pung kerja ni begini su, jadi supaya ketong lebih
memahami apa fungsi dari itu tombol vacum jadi ketong langsung coba untuk
bungkus ketong pung sampel yang mau bawa pi lab ni oo, wee ini mie pung bentuk
su bagus, cantik, macam mie di restoran tuh, nah abis pasang itu plastik di alat,
ketong pi tekan tombol vacum. Ju ketong kira itu vacum tuh fungsinya isap udara
ais langsung dia kasi rekat, ini sonde bapa, dia iiiiiiiiisaap kasi habis udara
di dalam bungkusan tuh, sampe bunyi “kreekkk kreekk kreekk” AWEEEEE mie hancur
ko tidak!!! Ketong 3 histeris oo, apa le beta, ko ais mie su gaga-gaga na remuk
dalam waktu kurang dari 5 detik ni kermana oo?? Diantara ketong 3 hanya Agnes yang
pikir cepat untuk tekan tombol cancel. Hasilnya: Ya remuukk su ma dia pung mie (T.T)
disitu kami terkadang merasa sedih.
Gambar pertama
menunjukkan penampakan mie yang seharusnya
Su cape buat mie dari pagi sampe malam
akhirnya saat lapar pun tiba, Nur
telpon salah satu teman terbaik yang rela-rela datang dari Kuanino hanya untuk
pi beli nasi goreng dan antar pi ketong. MEGOSSS! Tengkyu cantik!!! Tapi sayang
sesi foto-fotonya tak ada karena sibuk melahap nasi goreng...
Planning selanjutnya, minta uang di Ibu
Ina dan uji lab!!! FIX tanggal 29 Maret harus fix su, karena itu su H-3!!!
29 Maret 2016
Pagi-pagi Agnes su datang di kampus
kebidanan dengan tampilan baju bebas rapi yang berhasil membuat semua mahasiswi
yang kebetulan lihat dia jadi terheran-heran, biasalah, kalo ketong tampak beda
sendiri tuh akan jadi pusat perhatian.
Tapi sonde masalah, yang jadi masalah tuh kalo uang sonde ada, kalo uang
sonde ada berarti tidak bisa uji lab, kalo sonde bisa uji lab berarti ketong
sonde dapat hasil, kalo ketong sonde dapat hasil berarti ketong sonde bisa
selesaikan karya ilmiah, kalo ketong sonde bisa selesaikan karya ilmiah berarti
sonde bisa ikut lomba, kalo ketong batal ikut lomba berarti sia-sia ketong pung
perjuangan selama ini!! Urusannya kan panjang.
Dewi Fortuna berpihak pada kita ko
tidakk?? :D dua juta empat ratus ribu
rupiah sudah ada ditangan!!!!
Langsung ketong cao pi BLHD atau UPT Laboratorium Lingkungan untuk langsung lakukan
uji lab. Tapi disini ketong bagi tugas, beta dan Agnes pi BLHD, Nur stay cool
di kampus untuk menghadap ibu Watty (Kajur Kebidanan) dan perbaiki proposal
yang baru direvisi oleh Mrs. Ina.
DI
BLHD!!
Wuihhh gila, co besong di pihaknya
Chika, kuliah di kebidanan tapi bisa nyasar di tempat ke begini, penuh dengan
tabung-tabung kimia, cairan-cairan kimia, alat-alat kimia dong semua LENGKAPPPP!
Ketong mulai pengerjaan dari siap alat,
timbang sampel, buat destruksi basah (apa tuh ee??? Belajar sendiri),
penyaringan sampel, pengenceran sampel, sampe uji kandungan Fe dengan AAS
(Atomic Absorption Spektrofotometri). Talalu Kereenn ABA!!! Ini ketong pung
hasil-hasil foto.
Wuih pokoknya keren abisss! Tapi kawan
eee, itu hari yang melelahkan ju. Chika dan Agnes pi BLHD pagi, stay cool di
itu lab ni lumayan lama ju, awe sonde, bukan lumayan tapi sangat lama. Tambah
Agnes mau pi dinas le jam 2, otomatis Chika sendiri su ma di lab, tambah le Nur
sonde ada kabar, tambah le Chika harus tanda tangan proposal sebelum jam 4
aweee beraaat. Kerja dengan perasaan sonde tenang ni parah kawan. Tapi Tuhan
memang talalu baik, ketong patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk dapat
banyak pelajaran, Nur ju waktu itu pas ujian proposal (Sukses!), Agnes ju
akhir-akhir ini sering datang terlambat pas dinas tapi beruntung sonde begitu
jadi masalah. Habis su cuci alat, terpaksa Chika harus tunggu hasil pengujian. Dan
kawan dong tau apa??? Ketong bertiga terlalu-amat-sangat beruntung, karna kalau
sesuai harga yang ditetapkan dari lab tuh tiap sampel harus bayar Rp 152.228,-
nah sedangkan ketong pung sampel ada 12 kawan, co hitung sa berapa? Tambah le
sewa lab bayar Rp 500.000,- jadi tambah su! Tambah le kalau ketong ikut masuk
lab dan ikut praktik per orangnya tuh bayar tapi bayar berapa be lupa. Tapi
puji Tuhan! Kepala tata usaha bilang ketong cukup bayar uji lab dengan hitungan
1 sampel sa + sewa lab, hanya itu sa! Chika dan Agnes yang masuk lab dan ikut
praktik tuh su sonde perlu bayar le. Terlalu bersyukur teman-teman God’s plans
its very good!
Okeh lanjut cerita, pas hasil su
keluar Chika langsung kembali kampus untuk kejar tanda tangan dosen, wii mama
ee, perjuangan betul-betul kan, akhirnya dapat itu tanda tangan ju. Sonde
sia-sia to pontang-panting dari BLHDàfotocopyanàkampus...
Secepatnya ju ini hasil diinfokan pi
Agnes, selanjutnya pi di Nur yang baru habis ujian proposal. Teman-teman disini
ada satu hal yang mau ketong tiga paparkan secara jelas dan nyata, ini
berkaitan dengan “niat”, teman-teman tolong disimak baik-baik karna ini sangat jelas dan nyata, dan
terbukti ketong tiga alami, kalau ketong punya niat untuk melakukan sesuatu
berarti ketong akan betul-betul berusaha untuk menyelesaikan itu sampai habis,
dan kalau ketong melakukan sesuatu hal dengan ada niat apapun jalan yang ketong
lewati pasti bisa ketong hadapi, sesulit apapun itu. Disini dibuktikan dari
pengalaman yang ketong tiga alami, ketong nih punya waktu yang sama dengan
teman-teman yang lainnya yaitu 24 jam sehari (sonde kurang dan sonde lebih)
tetapi ketong mampu untuk menyesuaikan ketong pung waktu dengan teman lainnya,
dong punya banyak waktu untuk bisa fokus di dong punya proposal atau dong pung
dinas, tapi untuk ketong tiga tentu sonde teman, ketong pung waktu untuk fokus
di proposal sangat sedikit karena ketong ju harus fokus di karya ilmiah untuk
lomba, dan untuk bagi waktu/tenaga untuk itu 2 hal sangat-sangat sulit. Dan
teman tau? Walaupun ketong pung waktu sedikit, ketong mampu dan bisa
menyesuaikan ketong pung kemajuan proposal dengan teman yang lain. See?? Itu
patut dibanggakan teman!
Okeh, ini su H-2, hasil uji lab ju
su di tangan, itu berarti besok ketong pung waktu untuk selesaikan pembahasan
(apapun yang terjadi)!
30 Maret 2016
PEMBAHASAN!
(Kembali ke versi bahasa gaul) Di
Farmasi, setelah menunggu sekian lama, yang ditunggu pun datang! “Dari mana sa
lu, Nes? Ketong tunggu dari tadi a” itu yang Chika dan Nur lontarkan saat Agnes
nampak di biji mata. “Aduh, jangan marah, be baru dari ibu pung ruangan aa,
kerja ini perhitungan nih. Aduh, Nur, Chika eee complicated! Benar-benar
complicated”. Ya ampun, dilihat dari muka dan kata-katanya Agnes kayaknya bisa
dipastikan pembahasan yang harus dikerjakan betul-betul akan memeras otak
sampai benar-benar kering. Nah, yang bikin makin excited adalah yang membantu
menjelaskan ke Si Agnes tentang perhitungan hasil lab ternyata dua dosen!! Ibu Maria
Hilaria, S.Si.,S.Farm.,Apt.,M.Si dan Ibu Yorida F. Maakh, S.Si.,Apt.,M.Sc,
thanks for them! Makin berasa kalau karya ilmiah yang dibuat memang benar-benar
penting sepenting-pentingnya.
Setelah Si Agnes mendapatkan ilham
dari para dosen, sekarang giliran Chika dan Nur yang mendapat ilham dari Agnes.
“Nur dan Chika, jangan marah, kayaknya besong harus kerja sendiri dia pu
perhitungan, karna be mau dinas, tadi be su diajar sama ibu dong tadi, ini dia
pung cakaran (sambil ditunjukin ± 5 lembar kertas HVS yang isinya cakaran
semua!!!) Dan be sarankan sebelum besong kerja ini, besong pulang rumah, makan
memang, mandi memang, minum susu, supaya besong bisa benar-benar fokus kerja” Whaatt????
Wuidih, sampe segitunya??? Memangnya perhitungan jenis apa itu???? TIDAAAKKK!!
Rasanya seperti ditimpa setumpuk daun kelor! Toengg!!
Okeh! Saatnya untuk fokus! Kami pun
mulai merancang isi pembahasan yang akan dibuat, berusaha menemukan setiap
poin-poin penting dan menarik yang dapat menarik perhatian para juri untuk memberi
nilai tambah. Membuat pembahasan lebih sulit dibanding membuat tinjuan teori
brai! Kita harus bisa menemukan kata-kata menarik yang dapat memberi nilai
tambah pada penelitian kita.
Merekam adalah salah satu cara yang
kami pakai untuk saling mengajari, basic farmasi sama sekali tidak ada diantara
Chika dan Nur tapi Agnes mampu menjelaskan dengan baik. Dan saat proses pengajaran (cieh),
kami merekam dengan kamera apa yang diajarkan, supaya kalau lupa kan tinggal
direview lagi hehehe.
Malam harinya
dikampus kebidanan...
(cerita versi Chika) Saya dan Nur
mulai melakukan perhitungan! Tak lupa, kalkulator ilmiah yang kami pinjam dari
Pak Max, itu penting banget brai!! Cakar-cakar-cakar-cakar kami mencoba nomer
yang pertama, kata Agnes kalau perhitungan kami benar berarti hasilnya harus
sama dengan perhitungan yang dibuat oleh dosen farmasi tadi.
Suasana ruang kelas begitu sepi
karena saking fokusnya kami berdua. Perhitungan pertama hasilnya menunjukkan
digit angka yang sama dengan perhitungannya dosen, tapi sayang beda ‘koma’nya.
Ngitung lagi deh, ngitung-ngitung-ngitung, DAPET!!!! Gilaaaa, proses
perhitungan yang cukup menguras otak, kalau aja AC diruangan itu gak nyala,
bisa dipastikan butiran-butiran keringat sebiji jagung bakalan mengalir di
pelipis kami.
Walaupun 1 nomer berhasil kami
dapatkan hasilnya, bukan berarti selesai sudah perhitungan yang kita lakukan,
lihat bro! Lihaaatttt! Masih ada sekitar SERATUS
lebih nomer yang harus kita kerjain!!! Dan bukan hanya itu, setelah semua
perhitungan udah dikerjain, kita mesti mencari materi untuk membantu agar
produk kita ini bisa “terangkat”, dan perlu teman-teman tahu untuk membuat
pembahasan itu jauh lebih sulit daripada membuat tinjauan teori seperti yang
sudah saya bilang sebelumya, kita harus menyusun kata demi kata untuk membentuk
suatu paragraf, nah untuk mendapatkan 1 kalimat yang benar itu bisa membutuhkan
waktu setengah jam!!! Ini udah jam 7 malam, kita belum makan (hanya ada 1 dus
aqua yang entah punya siapa), belum mandi, terus ini mau dikerjain sampai jam
berapa, besok udah batas pengumpulan, TIDAK!!! Tuhan turunkanlah
malaikat-malaikatMu untuk membantu kami menyelesaikan tugas kami ini. Tok tok
tok!!! “Permisi kak” tiba-tiba 4 orang adik tingkat kami masuk ke ruangan yang
kami pakai “Aha!!! Penolong datang!”
“Malam ju ade, mo kerja tugas ko?”
tanya kami kompak.
“Sonde kak”
”Ju? Oo, mau nebeng AC ko??”
“Hehe, sonde kak” haeee??
“Oo, ini besong pung kelas aa?”
“Iya kak”
“Oooo, iyaiya” diambilah 4 kursi
di ruangan itu lalu ditempati oleh keempat cewek ini.
“Oya, besong tau ko dos yang isi
botol aqua dibelakang tuh sapa pung?” tanya Nur
“Kita pung kelas pung kak, untuk
dosen”
“Jual ko? Kalau be haus b mau beli” setidaknya
kan kita membayar, gak hanya mengambil.... tak lama...
“Ade” sapa Nur lagi-ramah (modus
mulai keluar)
“Sonde sibuk to?” tanya Nur
“Sonde kak”
“Oo, sonde kerja tugas aa? Eh atau
besong ada mau buat apa?”
“Sonde kak, mau tulis askeb ma
ketong lupa bawa askeb ju kak, ketong mau cas laptop sa” wuihh pas bangettt.
“Ow, na bantu kaka doo, sebentar sa.
Bisa ko?” bujuk Nur pean tapi pasti.
“Bantu apa kak?”
“Bantu itung-itung sa, bisa to???
Sonde susah”
“Ow iya kak” HOOREEEEE doa
terkabulkan! Ada yang bantu kami ngerjain itung-itungan deh!
Nah, mulailah kita mengajari
perhitungan (yang mudah aja), nurut juga sih mereka hehehe, mau ngelawan kakak
tingkat??? Gak sampai sejam, perhitungan pun selesai dikerjakan oleh kami
berenam. Makasih banget buat ade-ade tingkat ini, tertolong deh, selesai
perhitungan kami melanjutkan menyelesaikan perhitungan terakhir untuk menarik
kesimpulan, lama-lama mudah juga dikerjain.
Tidak lama saya dan Nur memutuskan
untuk pindah tempat kerja ke lobi kampus, udah malam kaleee, seenggaknya kita ngerjain
ditempat yang gak horor-horor amatlah. Di lobi, tak nampak satpam kampus
(mungkin lagi patroli).
“Chik, pinjam hape do, missed call
sa” kata Nur sambil mengambil hapenya saya. Yang dicari ternyata ada ditas.
“Thanks ee” Kata Nur lagi. Hape yang
tadi dipinjam saya letakkan di atas meja, trus saya lanjutin kerjaan di laptop.
Ringtonenya
Nur bunyi, ada telpon masuk.
“Chik!!!” panggil Nur, tampangnya
nampak menakutkan.
“Apa?”
“Lu telpon be?????” saya bingung
dengan pertanyaan itu, dari tadi kan saya gak megang hape, dari tadi mah sibuk
di laptop aja, nah hapenya sendiri lagi teduh-teduh aja tuh di atas meja.
“Lu gila!!! Be sonde pegang hape na,
ko hape disitu tuh” sambil tunjuk hape yang layarnya sedang mati.
”Ju ini apa????!!” sambil
menunjukkan layar hapenya yang tertulis ‘Cika Pello memanggil’ DEG!!!!
APA??????
“Nureee!!!!! Be sonde telpon lu aa,
sungguh ni!! Lu liat sendiri tadi to be sonde pegang hape!” ketakutan mulai
menggerogoti saya.
“Na ju sapa yang telpon ni?? Itu jelas-jelas
lu pung nama aa”
Waahh, gila ni, ini gila banget nih
namanya. Siapa sih yang iseng gini???? Masa iya hape bisa nelpon sendiri??? Malem-malem,
sepi, gak ada orang, tiba-tiba hape tampak aneh begini, horor amaaaaat! Dengan
rasa takut yang amat sangat (Wuihh) saya menelusuri log panggilan terakhir
‘panggilan terakhir ke Nur itu pukul 21.15!’ sedangkan telpon masuk barusan jam
21.18!!! Bukan saya yang melakukannya!! Bukan hapenya juga yang melakukan!!
Lalu siapa??? Sudah jelas yang ada dipikiran kami adalah....S_E_T_A_N!
OK FIX!! Mungkin ini pertanda kalau
sudah waktunya untuk pulang! Sudahlah gak mungkin juga kan kita nginep di
kampus untuk menyelesaikan karya ilmiah ini. Pack barang-barang dan go to home
RIGHT NOW!
31 Maret 2016
DEADLINE!!!!!!!!!
Hari yang membuat jantung berdebar
kencang!!! Oh Tuhan ini sudah deadline! Ini bukan H- lagi tapi J-! Pagi-pagi
Chika dan Nur sudah datang kampus dan langsung melanjutkan tugas kami yang
belum selesai yaitu “melanjutkan pembahasan”! waduh belum makan lagi, nasi
kuning? Makan bareng? Pecaahh, pasti enak banget. Isi perut dengan nasi kuning
yang dibeli di dekat kampus, uenaakk pisan euyyy.
“Nur, minum ketong ame di itu dos
aqua dibelakang sa ko? Ketong taro uang sa di it dos” otak mulai ‘Slep’.
“Ho ame su, ketong sonde curi ju”
satu otak ternyata.
Kebiasaan buruk, kadang kala kita
gak punya niat untuk mencuri, kita berniat untuk membayar, tapi pasti
ujung-ujungnya lupa bayar. Tanda aja!
Sehabis makan, kami berencana untuk
pergi ke farmasi melanjutkan pembahasan karya tulis dan menyelesaikan
administrasinya. Sesampainya di farmasi, kami bertiga mulai membagi tugas dan
berkutat dengan laptop masing-masing. Seriuuussss banget, sampai teman jurusan
lain negur aja, kita anggap makhluk asing yang mengganggu (hehe sorry). Semakin
mendekati jam pengiriman karya, suasana semakin terasa genting.
Pas dilihat-lihat ternyata masih
banyak pekerjaan yang belum diselesaiin nih, administrasi pendaftaran dan
pengiriman belum juga kelar 100%, belum minta tanda-tangan direktur, belum
nge-scan formulir, belum ngubah file ke pdf, aduh pokoknya banyak banget deh.
Ibu Priska pun menyarankan kami untuk membagi tugas, Agnes yang menyelesaikan
pembahasan, Chika dan Nur menyelesaikan administrasi. Ok fix, Chika dan Nur pun
langsur meluncur ke direktorat untuk meminta Direktur menandatangi formulir
yang akan dikirimkan. Prosesnya panjang bro, setelah mendapat tanda tangan pak
Direktur, kita mesti nge-cap formulirnya di direktorat, di direktorat kita
masih di nasihatin lagi sama Ibu Pudir (karna kesalahan kita juga sih), habis
itu pergi nyari warnet untuk nge-scan formulir yang udah ditanda-tangani.
Setelah semuanya kelar, balik deh ke
Farmasi. Agnes, Nur, Chika dan Ibu Priska, kami berempat selama berjam-jam
berkutat dengan laptop untuk menyelesaikan penelitian ini. Setiap menit mata
kami terus bergantian menatap jam dinding dan laptop, berharap waktu bisa
berhenti sejenak untuk memberikan kami kesempatan menyelesaikan penelitian ini
dan mengirimnya ke panitia tepat waktu.
Batas pengumpulan adalah jam 6 sore
waktu Indonesia Tengah, sebentar lagi jam 6, semakin jarum panjang mendekati
angka 12 keringat kami semakin mengucur makin deras. Saat kami sadar waktu
tidak cukup, maka jalan alternatifnya adalah menelpon panitia untuk memberikan
kami kelonggaran waktu. Puji Tuhan, dari panitia mau mengerti kondisi kami,
tepat jam 18.11 WITA hasil penelitian telah dikirimkan ke panitia disertai
dengan doa.
Detik-detik pengiriman KTI secara online
Kami bertiga pun berdoa bersama-sama,
mengucapkan syukur pada Tuhan karena kami berhasil menyelesaikan karya ilmiah
kami dan telah dikirim, airmata bahagiapun mengucur deras dari pelupuk mata
kami bertiga, inilah yang dinamakan perjuangan, inilah yang dinamakan
kekompakan, inilah hasil kerja keras kami selama 36 hari! Kami tak menyangka
akan sampai di titik ini.
Yeeyyy, karya ilmiah kami telah sampai
ke panitia, saatnya bagi kami bertiga untuk menunggu hasilnya. Ini adalah
langkah awal bagi kami untuk membuktikan bahwa orang NTT juga mampu bersaing,
dan terutama mahasiswa Poltekkes Kupang pasti mampu untuk melakukannya.
Yeaahhh!!!
Ini dia
momen-momen yang tak terlupakan bagi kami bertiga
Habis nangis-nangisan bareng selfie dulu :)
Habis nangis-nangisan bareng selfie dulu :)
@Jurusan Farmasi
3 Mei 2016
“Chik, pengumuman su keluar!!! U
tau??? Ketong masuk 15 besar, ketong peringkat ke-13 dari 178 peserta!!! Ketong
ju masuk dalam daftar peserta Waiting List, kalo dari 10 besar ada 3 tim yang
sonde melakukan registrasi, berarti ketong bisa masuk 10 besar!!” Kata Agnes
via telpon.
Kisah penuh perjuangan dan pengorbanan.
Kisah yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Kisah yang penuh suka, duka,
tangis, dan tawa. Kisah yang tidak akan pernah terlupakan semasa kuliah di
Poltekkes Kemenkes Kupang. Inilah akhir dari misi kami, missions is complete! Inilah
persembahan terakhir kami sebelum di wisuda bulan Oktober 2016 nanti (AMIN).
"Menang
itu bukan soal ranking kawan, bukan soal berapa banyak yang kau kalahkan, tapi
menang itu soal seberapa banyak kau melibatkan Tuhan dalam apa yang kau
kerjakan"
- Agnes -
- Agnes -
“Jika ingin
tim kamu berhasil, maka setiap orang yang ada dalam tim itu harus memiliki niat
dan kepercayaan untuk mencapai keberhasilan. Jika satu saja anggota tim kamu yang
tidak memiliki niat dan kepercayaan, maka sia-sialah usaha kalian” -Chika-
"Recipe from MORINGA team: pour the intention, then thinly slice our principles, sprinkle the effort, last...mix it all with sweetest pray and a lot of togetherness" -Nur-
"Recipe from MORINGA team: pour the intention, then thinly slice our principles, sprinkle the effort, last...mix it all with sweetest pray and a lot of togetherness" -Nur-











Tidak ada komentar:
Posting Komentar